Tampilkan postingan dengan label Sektor Riil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sektor Riil. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Mei 2014

Perencana Keuangan dan Bisnis Sektor Keuangan

Salam,

Sudah lama sekali saya tidak mengupdate blog ini. Banyak hal yang bisa diceritakan selama periode dimana jeda ini. Namun dari sekian banyak cerita, yang terbesit di kepala saya adalah perencanaan keuangan.

Belakangan ini marak pemberitaan adanya kasus yang melibatkan seorang investor dengan perencana keuangannya. Ini menarik karena ini terkait dengan uang. Iya. Investasi yang diharapkan di masa yang akan datang dapat menghasilkan sejumlah uang. Apalagi bila perencana keuangan punya optimisme lebih.

Di lain pihak, dari sisi perencana keuangan, investor seharusnya dapat mengambil keputusan terkait investasi yang ditawarkan. Semakin besar nilai investasi yang ditawarkan, dalam hal ini meskipun secara tidak langsung, semakin besar kemungkinan perencana keuangan mendapatkan keuntungan. Belum lagi hal ini menjadi sarana promosi untuk mendapatkan klien yang lebih banyak lagi bila mereka mampu menunjukkan klien yang ada.

Perencana keuangan, umumnya cenderung menyarankan untuk berinvestasi di sektor keuangan dengan iming-iming tingkat keuntungan yang tinggi. Padahal sektor riil yang seharusnya menjadi motor penggerak bisnis melalui multiply effect-nya terhadap sektor riil yang lain dan sektor keuangan yang berfungsi sebagai pendukung sektor riil.

Bila sektor keuangan ini berjalan sendiri, tanpa atau hanya dengan melibatkan sektor riil dengan porsi yang sangat kecil, ini membuat sektor keuangan berjalan sendiri, yang kemudian menyebabkan terjadinya "economic bubble". Bubble ini sewaktu-waktu akan meletus, seperti halnya yang terjadi di tahun 1998.

Jadi, boleh boleh saja investasi di sektor keuangan, tetapi pertimbangkan juga lebih jauh untuk lebih memilih investasi di sektor rill. Keuntungannya juga tidak kalah menarik kok.

Maybe some other time, i will explain more opportunity in real business... 

Senin, 30 Juli 2012

Laris Manis Dagang Aksesoris

Di suatu kesempatan saya berkunjung ke suatu toko aksesoris yang menjual bebagai pernak-pernik di suatu pusat perbelanjaan. Melihat dari ragam produk yang ditawarkan dan jumlah pengunjung dan nilai transaksi yang terjadi kelihatannya usaha ini sangat menggiurkan.

Seperti biasanya, keingin tahuan saya muncul seiring melihat di kesempatan tersebut. Pertanyaan yang memprovokasi dan mengudang emosi positif bisa dengan mudah mengeluarkan informasi yang saya butuhkan untuk mentaksir besaran keuntungan yang diraup jenis usaha tadi. Hanya dengan lima orang pramuniaga, usaha tersebut mampu membukukan keuntungan bersih senilai lebih dari Rp.500jt dalam setahun.

Oke, ada baiknya sedikit diulas tentang cerita dibalik kesuksesannya. Diawali tahun 80 puluhan, dia sudah memulai bergelut di jenis usaha ini tetapi hanya membantu usaha keluargannya. Seiring perjalanan waktu, pertengahan 90-an beliau mencoba membuka toko sendiri. Tentunya tetap dengan dukungan dari keluarga. Pengelolaan yang konvensional melalui pengalaman berharga dari supplier menjadi kunci utama keberhasilan. Walaupun menurut saya, potensinya masih sangat besar untuk bisa ditumbuh kembangkan. Tetapi…. pertemuan yang singkat menjadi hambatan untuk memberikan gambarannya.

Dalam membeli barang dagangannya, secara rutin minimal sebulan sekali dia mendatangi supplier besarnya untuk mengetahui lebih jauh update jenis dan varian produk yang ada. Ini sangat penting karena bisnis aksesoris memiliki keunikan dan peminatan musiman. Ada masa dimana satu jenis produk sangat laku keras sampai kemudian berakhir dengan munculnya jenis dan varian yang baru.

Secara operasional, kerena usahanya terletak di satu pertokoan yang memiliki jam buka terbatas, yaitu dari pukul 8 hingga pukul 17, dan tidak menggunakan peralatan pendukung seperti computer, jumlah tenaga kerja yang dilibatkan juga terbatas. Lima orang pramuniaga dengan tingkat keahlian bervariasi dirasa cukup untuk usaha tersebut. Dengan menggaji berasarkan acuan UMP maka keuntungan bersih dari usaha ini memang sangat menggiurkan. Tetapi… kembali lagi bahwa kebijakan pengelolaan yang tidak agresif merupakan pillihan si pemilik. Sangat sayang untuk tidak dikembangkan lebih luas.

Jumat, 29 April 2011

Prospek Komoditas Karet dari Perkebunan Karet di Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan

Di suatu kesempatan, saya mendapat tugas ke daerah di Kabupaten Tabalong Kalimantan Selatan. Kondisi ini membuat saya ingin tahu di sektor apa umumnya masyarakat di sana berkerja. Kabarnya memang disana merupakan pusat perkebunan karet dan tambang batu bara. Ada beberapa perusahaan yang mengelola perkebunan karet selain dikelola secara tradisional oleh masyarakat setempat. Selain itu, ada satu perusahaan tambang besar yang memiliki kontrak karya disana. Namun dibawahnya ada beberapa perusahaan afiliasi maupun yang bersifat kerjasama dalam pertambangan tersebut.

Untuk perusahaan tambang, mungkin akan kita bahas di posting berikutnya, dan untuk sekarang saya lebih tertarik untuk membahas prospek dan tantangan dari perkebunan karet tersebut. Informasi yang yang saya himpun berasal dari pelaku usaha ini, dan masyarakat yang tidak terlibat secara langsung dalam proses pengerjaan kebun. Namun, dengan demikian saya berhadap, informasi yang bisa saya tangkap merupakan informasi yang relevan dengan metode pertanyaan yang menguji kekonsistenan jawaban sehingga diarapkan dapat mendekati akurat.

Untuk satu hektar kebun menurut hasil penelitian dinas pertanian, penyadapan dilakukan dengan metode 2-1. Dengan metode ini, setiap setelah 2 hari tidak disadap maka di 1 hari di hari ketiga penyadapan dilakukan. Akan tetapi di daerah tersebut, metode ini dibalik menjadi 1-2, dimana dalam tiga hari, 1 hari off dan 2 hari disadap. Dan setiap kali setelah disadap, lahan satu hektar dapat menghasilkan rata-rata sebanyak 35kg. Berat ini karet hasil sadapan ini bervariasi tergantung berbagai factor seperti cara pengelolaan kebun, pemberian pupuk, dan cara menyadapnya. Cuaca juga sangat berpengaruh terhadap produksi karet. Bila hujan datang, petani tidak akan melakukan penyadapan karena mereka takut hujan asam membuat tanaman mereka bisa menjadi rusak dan menurun kemampuan produksinya. Variasi berat hasil panen bisa dengan berat terkecil sebanyak 25kg hingga 50kg per hektar.

Harga karet di tingkat petani juga bervariasi, sayangnya mereka tidak punya kekuatan menawar yang cukup sehingga harga lebih banyak ditentukan oleh juragan pengepul karet. Harga tertinggi yang pernah dicapai adalah senilai Rp.20rb/kg, namun disaat saya bertandang ke sana harga berada di kisaran Rp.15rb/kg. Jadi untuk satu bulan panen petani umumnya mendapatkan sebesar Rp.10,5jt per bulan (35kg x 15rb x 20 hari). Tetapi ini belum dikurang dengan biaya perawatan dan tenaga kerja.

Pemupukan umumnya dilakukan 2 kali setahun walaupun idealnya 3 kali setahun, selain itu biaya tenaga kerja penyadapan juga harus dipertimbangkan. Di wilayah tersebut umumnya mereka memberlakukan system bagi hasil dengan proporsi 40:60, dimana pemilik mendapatkan 40 persen dari keuntungan bersih yang didapatkan dalam setiap panen. 60 persen diberikan kepada tenaga penyadapnya. Namun ada juga satu wilayah kecil yang menggunakan system upah untuk penyadapan tersebut.

Hasilnya, ambil contoh di kecamatan Haruai yang dulunya adalah daerah transmigrasi sekarang kehidupan masyarakat disana perekonomiannya jauh membaik.

Selasa, 22 Februari 2011

Perjalanan Penjaja Barang Secara Kredit

Di suatu kesempatan saya berbincang dengan seseorang yang belum saya kenal sebelumnya. Perbincangan seperti biasanya, saya giring untuk menyelami lebih dalam tentang bidang apa pekerjaan orang tersebut. Benar saja, akhirnya banyak informasi yang saya bisa ungkap dari pengalaman orang tersebut mengenai bagaimana dia menjalankan usahanya.

Tukang kredit, begitu orang biasanya menyebutnya. Tidak seperti yang dibayangkan orang, dia menjalankannya dengan modal dengkul. Menurut informasi yang berhasil saya ungkap, beliau ini merintis usaha tersebut sejak delapan tahun lalu. Diawali dengan menghubungi berbagai toko-toko besar yang mau memberinya harga diskon. Setelah informasi dihimpun dan kata sepakat diperoleh, beliau selanjutnya mencari pelanggan yang mau membeli produk-produk yang ditawarkan.

Kenalan-kenalan penghuni kost-kostan menjadi sasaran pertamanya. Menurutnya, tipikal orang seperti ini biasanya maunya serba praktis, dan bersedia membayar dengan harga tinggi untuk kredit. Seiring berjalanya waktu, dia berusaha mendapatkan pelanggan yang terbaik dengan risiko minim. Sekarang sebagian besar pelanggannya adalah orang yang bekerja di sektor hiburan malam, dan pertambahan pelanggannya berkembang dari informasi mulut ke mulut dan rekomendasi pelanggan yang sebelumnya.

Berbicara mengenai margin keuntungan, dia menyebutkan terkadang untuk kredit, uang muka pertama sebenarnya sudah cukup untuk menutupi harga beli barang tersebut, sehingga praktis, keuntungan yang diperolehnya adalah sebesar angsuran yang harus dibayar oleh pelanggannya. Kasarnya untuk margin laba paling tidak, lebih besar dari 50% untuk setiap produk. Keuntungan bisa semakin besar lagi bila beliau dapat diskon khusus dari suplier langganannya. Siklusnya berubah ubah, terkadang hanya bisa memperoleh 20 ribu per hari, tetapi ada kalanya bisa dapat keuntungan Rp.700 ribu dalam sehari.

Pelajaran yang dapat dipetik adalah, setiap usaha tentunya ada risiko dan keuntungan yang diharapkan. Modal awal tidak sepenuhnya hanya diwakilkan oleh uang saja. Hubungan baik dengan suplier dan pelanggan, jaringan, , dan kepercayaan pelanggan juga merupakan modal yang sangat berharga dalam berusaha. Jadi.... siapa bilang memulai usaha harus selalu dengan modal besar?

Minggu, 03 Oktober 2010

Menelisik Bisnis Kanvas Makanan Ringan

Sudah tidak asing lagi, banyak toko kecil yang menjual sembako, makanan ringan dan keperluan lainnya di sekitar pemukiman. Secara bisnis mungkin kita tidak pernah memperhatikan lebih dalam mengenai potensi penghasilannya. Di kesempatan ini, kita tidak akan membahas tetang prospek bisnis toko kecil ini, tapi usaha lain yang terkait dengannya yaitu suppliernya yang biasanya kita sebut kanvas.

Studi sederhana ini didasari atas hasil wawancara tidak formal ke pelaku bisnis ini. Orang yang diwawancarai juga bervariasi, mulai dari pemilik, pegawai, dan bahkan buruh lepas yang terkait bisnis ini seperti kuli angkut.

Beberapa hal yang disampaikan disini dikemukakan berdasarkan asumsi tertentu sesuai nilai wajar yang berlaku di pasar saat tulisan ini dimuat.

Hasil pengamatan dan wawancara yang dilakukan sebagai berikut:

Usaha Kanvas Makanan Ringan
Investasi Awal
Mobil Operasional 60,000,000
Persediaan 20,000,000
Sistem Informasi 5,000,000
Survei 5,000,000
Bahan Bakar 2,000,000
Telpon 1,000,000
Tot. Invest. Awal
93,000,000


Usaha Kanvas Makanan Ringan
Proyeksi Laba Rugi Per Bulan
Penjualan
250,000,000
HPP (margin 6%) 235,849,057
Laba Kotor
14,150,943
Beban Admin. dan Umum 2,000,000
Beban Transportasi 2,000,000
Beban Gaji 3,000,000
Beban Penyusutan 833,333
Laba Bersih
6,317,610
Laba Bersih Setahun
75,811,321



Periode Pengembalian (Bulan)
15
Periode Pengembalian (Tahun) 1.23


Terlihat bahwa tingkat pengembalian dari investasi yang dilakukan dapat diperoleh hanya dalam kurun waktu kurang dari satu setengah tahun dengan asumsi hanya menggunakan satu unit mobil operasional. Hasilnya akan lebih besar lagi bila kita menggunakan lebih banyak mobil operasional.

Uraian singkat ini tentu belum mampu menggambarkan secara detail seluk beluk bisnis ini. Utamanya terkait risikonya. Namun, semoga bisa memberi inspirasi bisnis dan tempat berbagi bagi pelaku usaha ini.

Minggu, 15 Agustus 2010

Pengelolaan Koperasi: Tantangan dan Wacana Solusi

Baru baru ini saya menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) dari suatu koperasi. Ada berbagai hal yang disampaikan di pertemuan tersebut. Berbagi pendapat untuk kemajuan koperasi hingga penyampaian laporan pertanggung-jawaban pengelolaan koperasi tersebut.

Pembahasan utamanya arahnya adalah upaya memajukan koperasi dengan meningkatkan proporsi pendapatan yang bersumber dari penjualan daripada pendapatan dari bunga atas pinjaman ke anggota.

Ada beberapa outline yang menjadi saran, pertama mengenai adminstrasi dan surat menyurat, kedua, terkait strategi peningkatan pendapatan, dan yang ketiga adalah rencana program kerja dengan menjalin lebih banyak kemitraan.

Terkait adminstrasi dan surat menyurat, perlu dilakukan banyak pembenahan mengenai standar. Kegagalan dalam pengelolaan ini menyebabkan timbulnya demotivasi dari anggota dan pengurus koperasi. Tugas dan tanggung jawab pengurus dan anggota harus diungkap secara gamblang di AD/ART dan dikomunikasikan pada seluruh anggota dan pengurus. Tidak kalah pentingnya adalah kekonsistenan dalam menjalankannya.

Wacana pengelolaan secara syariah juga muncul. Tujuannya jelas adalah agar usaha mulia yang dilakukan koperasi harus juga didukung dengan tatanan yang mulia pula. Tujuan yang baik bila dijalankan dengan cara yang keliru akan memberikan dampak negatif di masa yang akan datang.

Unsur kehati-hatian tetap menjadi prioritas bagi pengelolaan koperasi. Implikasinya, selain menganut sistem antrian atas pengajuan kredit, diperlukan analisis lebih untuk mengantisipasi potensi kerugian dan ketidak-nyamanan anggota. Namun disisi lain tetap mempertimbangkan aspek humanis dan tingkat kritikal.

Program peningkatan pendapatan melalui peningkatan peran penjualan produk di kalangan anggota koperasi maupun pihak luar menjadi perhatian penting. Kendala terbesar adalah adanya aturan bersama yang menetapkan margin laba sebesar 10% dari harga pembelian. Sampai akhir pertemuan pembahasan mengenai hal ini tetap menemui jalan buntu. Alternatif solusi yang diajuakan dengan melalukan pembelian secara partai untuk mendapatkan harga diskon juga termentahkan karena skala penjualan koperasi yang relatif masih kecil. Membangun kemitraan tentunya selain komitmen perlu juga kinerja yang baik untuk menjamin pola kerjasama yang saling menguntungkan.

Menurut saya, aturan yang kaku mengenai margin laba yang sama untuk setiap produk ada baiknya dipertimbangkan kembali. Perlu dilakukan penelitian kecil tengan pengaruh harga terhadap permintaan produk yang dijual di koperasi. Bila elastisitas permintaanya tinggi maka kebijakan penetapan margin laba yang tinggi kelihatannya kurang tepat. Tekan margin laba agar harga menjadi rendah (murah) dan dengan demikian permintaan (penjualan) akan produk akan meningkat.

Ingat hitung-hitungan dagang. Prioritaskan pada perputaran tanpa mengabaikan margin laba. Itu yang penting. Margin laba 2% mungkin terlihat kecil, akan tetapi bila perputaran penjualannya tinggi maka secara kumulatif dalam satu periode akan diperoleh margin laba yang relatif tinggi. Coba bandingkan lebih baik menjual 1000x dalam satu tahun dengan margin 2% atau 50x dengan margain 10% dalam setahun (2000% vs 500%). Tetapi harus tetap diingat asumsi elastisitas harga terhadap permintaan tadi.

Peningkatan pangsa pasar juga harus diutamakan, jangan membatasi diri hanya pada anggota saja. Potensi terbesar dapat diraup dari konsumen diluar anggota. Coba hitung berapa jumlah anggota koperasi anda yang ada. Sangat terbatas. Bila hanya berorientasi anggota maka tingkat pendapatan koperasi akan terbatas juga. Coba jajaki pemasaran yang lebih luas. Tidak mustahil skala ekonomis akan dapat dicapai dengan cara ini.

Meningkatkan pola kemitraan dengan pemasuk juga penting. Baik secara kualitas maupun kuantitas. Evaluasi pemasok yang sudah ada secara berkala sambil memantau keberadaan potensi suplier alternatif sehingga produk dan harga akan selalu dapat terjaga sesuai harapan koperasi.

Saran dan inspirasi dalam tulisan ini merupakan respon dari satu kasus koperasi tetapi mungkin saja bisa diaplikasikan pada koperasi-koperasi yang lain. Itu juga sebabnya arah pembahasannya adalah usulan solusi pemacahan permasalahan koperasi tersebut, sehingga masukan positif untuk pengelolaan koperasi lebih lanjut akan sangat berarti.

Kamis, 22 Juli 2010

Mencoba Peruntungan Bisnis Nasi Goreng dan Mie Goreng

Sudah tidak asing bagi kita melihat bertaburannya pedagang kaki lima yang menjual nasi goreng. Pamor nasi goreng merupakan menu makanan yang relatif murah dan praktis memang tidak tergantikan sampai sejauh ini. Biasanya menu nasi goreng di serangkaikan dengan menu mie goreng. Permintaan pasar yang tetap selalu tinggi mungkin jadi alasan menarik untuk terjun ke bisnis ini.

Tulisan ini sebenarnya hanya mencoba menyajikan gambaran tentang seberapa besar potensi keuntungan yang dijanjikan dari bisnis nasi goreng. Dengan skala yang relatif moderat untuk ukuran bisnis ini.

Beberapa pedagang nasi goreng dengan waktu yang berbeda menjadi sumber data dari investigasi kecil-kecilan ini. Kapasitas penuh setiap objek (pedagang) yang diamati bervariasi, namun umumnya sudah berdiri lebih dari tiga tahun. Teknis pengumpulan datanya dilakukan tidak secara formal dan tanpa menggunakan kuisioner resmi, tetapi secara lisan dan dalam suasana relax. Data yang dikorek tidak secara menyeluruh, tetapi bagian tertentu saja yang dianggap perlu.

Nikmatnya nasi goreng dan mie goreng ternyata senikmat keuntungan yang bisa diraup. Dengan kondisi normal, dalam skala moderat, pedangang nasi goreng dapat membukukan keuntungan sebesar 7 juta rupiah lebih. Hemmm, ternyata secara rata-rata nilai ini lebih besar dari gaji pegawai. Berikut ini gambaran perhitungannya.

Asumsi:

Porsi terjual per hari:

Nasi Goreng 70
Porsi
Mie Goreng 50
Porsi
Harga Nasi Goreng 7000
Per Porsi
Harga Mie Goreng 7000
Per Porsi
The 1000
Per Gelas






Dagang Nasi Goreng dan Mie Goreng
Proyeksi Laba Rugi
Untuk Periode 1 Hari





Dalam Rp.-
Penjualan Nasi Goreng
490,000
Penjualan Mie Goreng
350,000
The
120,000
Beras 80,000
Mie (50 x (32000/44) 36,364
Telur (@Rp.1.000,-) 120,000
Ayam 60,000
Gaji 3 orang pagawai 120,000
Saos Kecap Garam Dll 80,000
Minyak Goreng 50,000
Gas 25,000
Sewa Tempat 20,000
Transport 20,000
By. Penyusutan Peralatan 20,000
Plastik, Kertas, Dll 10,000
By. Lainnya (10% tot by.) 64,136



Laba per hari

254,500
Laba per bulan
7,635,000
Laba per tahun
91,620,000






Investasi Awal:

Gerabak 3,000,000
Peralatan Masak 2,000,000
Kompor 1,000,000
Perlengkapan 2,000,000
Total Invenstasi Awal 8,000,000






Periode Pengembalian Investasi: 0.0873 Tahun

Terlihat bahwa dalam kondisi normal dengan investasi awal untuk membeli asset yang mendukung usaha, yaitu sebesar Rp.8 juta, maka hanya dalam waktu tidak sampai dua bulan, investasi ini sudah tertutupi. Selebihnya tinggal memetik keuntungan setiap bulannya.

Sekali lagi, bahwa perhitungan tersebut diatas bersifat moderat, ada kemungkinan bila anda memulai bisnis ini, periode pengembalian lebih lama, yah kurang lebih satu tahun. Awal berdirinya bisnis biasanya jualan masih relatif sepi, tetapi bila tetap mampu menjaga cita rasa yang nyaman dan pelayanan yang memuaskan, pengembalian atas investasi akan lebih cepat lagi.

Hayoooo siapa lagi yang tertarik untuk terjun ke bisnis ini???

Business Plan: Dokumen Apa dan Bagaimana Menjalankan Rencana Bisnis

Hari ini setelah memberikan kuliah yang saya persingkat waktunya, saya segera bergegas menyiapkan bahan presentasi untuk acara pembinaan UMKM. Sebuah program pendampingan yang diselenggarakan oleh Kementerian Koperasi. Kebetulan saya diutus fakultas untuk mengisi acara ini.

Semangat rasanya membayangkan akan berbagi dengan calon pengusaha besar. Walaupun pengalaman saya terbilang dangkal untuk yang satu ini, tapi semoga pertemuan ini bisa menjadi inspirasi bagi semuanya atau paling tidak untuk diri saya sendiri.

Pemaparan memang sudah dimulai sebelum saya datang. Panel pengalaman beberapa pengusaha mengenai operasionalisasi bisnis mereka sampai pada pemaparan alternatif akses kredit yang pernah dialami memang mengundang perhatian ekstra dari para audience.

Setelah break isoma, tibalah giliran saya. Tema pembuatan business plan yang sejatinya dibahas satu semester penuh, saya paparkan hanya dalam waktu efektif satu jam. Beban juga rasanya. Untuk menebus rasa bersalah ini, di akhir pemaparan saya berikan alamat blog www.keuanganpraktis.com ini sebagai media respon atau pertanyaan konten materi business plan tersebut. Untuk materi presentasinya silahkan unduh disini. Materi tersebut sengaja saya desain secara sistematis sehingga secara praktis bisa dijadikan acuan menyusun business plan.

Semoga pertemuan itu menjadi manfaat. Amien.

Sabtu, 17 Juli 2010

Prospek Usaha Batu Bata Sungai Tabuk Banjarmasin

Di suatu kesempatan saya sengaja menyempatkan diri untuk melakukan studi kecil-kecilan mengenai kondisi dan prospek usaha pembuatan batu bata. Studi ini sebenarnya dilakukan untuk memenuhi dua tujuan utama yaitu, pertama mencari informasi mengenai pemasok batu bata, dan kedua, mempelajari lebih prospek dan tantangan dalam berbisnis batu bata tersebut.

Studi kecil-kecilan ini sebenarnya tidak secara formal memberikan semacam kuisioner, tetapi lebih kepada pengajuan pertanyaan secara lisan. Sampel yang diambil adalah lima industri rumahan pembuatan batu bata di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.

Studi ini menunjukkan bahwa kapasitas produksi industri rumahan pembuatan batu bata di Kec. Sungai Tabuk bervariasi, mulai dari 26.000 buah per bulan hingga mencapai 120.000 buah bata per bulan. Permintaan pasar terhadap bata jenis ini tetap tinggi dimana terbukti dengan menipisnya jumlah stok yang dimiliki industri rumahan tersebut dan pada beberapa kasus masih banyak order yang belum bisa terpenuhi. Harga berfluktuasi tergantung permintaan penawaran bata berkisar antara Rp.380,- sampai dengan Rp.500,- per buah bata. Dalam kondisi normal, industri rumahan batu bata ini mampu membukukan laba sekitar Rp.5 juta hingga Rp. 6 juta per bulan, atau 60 juta hingga 72 juta rupiah setiap tahunnya. Gambaran ringkasnya dapat dilihat dari proyeksi laporan laba rugi dan neraca berikut.

Kalkulasi keuangan bisnis ini dalam kondisi normal sebagai berikut.

Industri Rumahan Batu Bata Sungai Tabuk
Proyeksi Laba Rugi
Untuk Periode 1 Bulan


Dalam Rp.-
Penjualan (35rb xRp.400,-)
14,000,000
Biaya:

- Upah Mengambil tanah liat (2org x Rp.1jt) 2,000,000
- Upah Mencetak (3org x Rp.1jt) 3,000,000
- Upah Membakar (2org x Rp.1jt) 2,000,000
- Bahan Bakar (4ret limbah ulin xRp.250rb) 1,000,000
Laba Operasi
6,000,000
Pendapatan Angkut (Rp.120rb x 35)
4,200,000
Biaya Bahan Bakar Pickup (((2x25km)/10 x Rp.4500) x 35) 787,500
Biaya Perawatan Pickup ((2x25km)xRp.300 x 35) 525,000
Biaya Penyusutan Pickup (100jt-30jt)/(8thn x 12bln) 729,167
Upah buruh angkut (2org x 30rb x 35kali) 2,100,000
Penyusutan gudang (6jt / (3thn x 12bln)) 166,667
Laba Bersih

5,891,667


Dalam setahun, laba bersih perusahaan dapat mencapai Rp.70jt.

Aliran kas bersih dalam setahun= Rp.81.450.000,- ((5.891.667 + 729.167 + 166.667) x 12bulan)

Bila modal awal sebesar Rp.250jt yang dialokasikan untuk:
  • Tanah Rp.120jt
  • Bangunan Rp. 30jt
  • Mobil operasional Rp.100jt
Maka:
Periode pengembalian investasi= Rp.250jt/Rp.81,45jt= 3,07 tahun
Dengan mempertimbangkan berbagai risiko yang diakomodasi melalui penurunan nilai sebesar 12% maka periode pengembalian investasi menjadi= 4,8 tahun.

Perhitungan tersebut diatas dengan asumsi nilai rata-rata. Secara optimis kita bisa mendapatkan keuntungan yang lebih bila berinvestasi misalnya dengan 4x skala produksi rata-rata industri tersebut dengan harapan tingkat keuntungan yang diperoleh bisa lebih besar dari 4 kali lipat akibat pemanfaatan aset seperti luas areal, gudang dan pickup secara bersama-sama dan atau bergantian.

Sabtu, 20 Juni 2009

Bisnis Properti: Bisnis dengan Daya Magnet Kuat dan Prospek Cerah

Bagi sebagian besar orang, bisnis properti merupakan bisnis premium dan bergengsi. Selain unik, bisnis properti ini juga terkesan prestisius. Persepsi ini terbentuk karena memang harga properti semakin hari semakin mahal.

Kecenderungan ini yang membuat bisnis properti memiliki daya magnet kuat. Orang akan berbondong-bondong dan berebut untuk membeli properti walaupun harganya selangit. Ini uniknya. Bahkan ada pengembang yang mengaku telah menjual habis puluhan rumah hanya dalam waktu dua hari saja.

Persepsi bahwa memiliki properti selalu untung mungkin menguatkan kecenderungan ini. Pola lonjakan harga properti yang sulit diikuti oleh kenaikan pendapatan mendorong orang untuk mem-bypass naiknya harga properti dengan cara membeli secara kredit. Iya, mayoritas penjualan properti memang didominasi oleh pembelian dalam bentuk kredit.

Animo besar ini tentunya mengundang ceruk yang dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang cerdik. Ada berbagai potensi yang dapat dikembangkan terkait bidang ini, antara lain:
  1. Pengembang. Bisnis intinya adalah membangun perumahan, apartemen, hotel dan properti lainnya untuk dijual pada konsumen. Potensi keuntungan cukup besar, bahkan menurut seorang pengembang, keuntungan normal biasanya sebesar 100% dari modal per properti bahkan terkandang lebih besar lagi.
  2. Broker properti. Komisi atau fee jasa broker memang secara persentasi tidak begitu besar. 2,5% dari nilai jual properti. Akan tetapi dengan berspesialisasi maka kuantitasnya diharapkan juga akan bertambah. Keuntungan periodik bisa bervariasi tergantung seberapa banyak memediasi penjualan dan seberapa besar nilai jual propertinya.
  3. Jual beli properti. Dengan membeli properti yang tepat dengan memiliki prospek lokasi yang baik, keuntungan berlipat-lipat dapat diraup. Terjun ke bisnis ini memerlukan kejelian dan membina hubungan dengan pihak-pihak birokrasi terkait.
  4. Membeli dan memproduktifkan properti. Disini kita bisa memfungsikan properti seperti kost, kios, toko, dan lain sebagainya yang bisa disewakan atau digunakan sendiri untuk keperluan bisnis.
  5. Sebagai jaminan. Perbankan lebih mempercayai jaminan berupa sertifikat properti dalam mengucurkan kredit.
  6. Jasa renovasi.
  7. Jasa Arsitek, dan lain sebagainya.

Kita akan membahas masing-masingnya di kesempatan yang berbeda. Jadi... ikuti terus perkembangan blog ini. Silahkan berkomentar bila ada yang kurang dipahami.

Satu Langkah Besar dari Hidupku... Menikah... Lagi

Setelah posting sebelumnya.... dimana istri tercinta saya meninggal. Kali ini lembaran baru hidupku dibuka kembali... Menikah lagi. Iya.. 28...