Fenomena Klenik di Negeriku
Belakangan ini banyak kasus terbongkarnya fenomena metafisik di media masa. Hmmm ini menarik untuk dibahas mengingat sebenarnya kasus seperti ini tidak hanya baru ini saja terjadi. Bahkan sejarah panjang berdirinya negeri ini dari rakyat jelata hingga setingkat presiden di negeri ini tidak lepas dari hal yang demikian.

Secara emosional saya bisa memahami bagaimana beratnya menyadarkan seseorang untuk tidak bergantung dan percaya lagi dengan hal yang belum menyentuh nalar ini. Bahkan orang terdekat saya juga pernah menjadi korban. Bukan hanya sekali, tetapi beberapa kali dengan modus yang beragam. Menyedihkan memang. Harta benda yang telah dikumpulkan dengan cara yang halal melayang hanya dalam hitungan sekejap bahkan meninggalkan hutang yang bebannya harus ditanggung bertahun-tahun kemudian.

Saya percaya dengan ilmu pengetahuan yang semakin maju dan berkembang. Namun untuk yang satu ini belum dapat dibuktikan secara komperhensif mengenai keanehan metafisika. Harapan untuk mengetahui dan memahami esensi metafisik tersebutlah yang mungkin menginspirasi berbagai temuan yang bersinggungan dengan itu. Teleportasi, telpati, transformasi, dan sebagainya belakangan ini sudah mulai dijawab dengan teknologi. Setidaknya hal ini menggugah manusia untuk mewujudkan sesuatu yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya.

Bagaimana pun itu, sebenarnya ada dua pendekatan yang bisa digunakan untuk memahami fenomena supranatural tersebut. Pertama yaitu ketauhitan yang berorientasi akhirat dimana tiada daya upaya yang lebih hebat dari sang pencipta, Allah SWT dimana manusia harus menyembah dan mengikuti segala perintahnya dan menjauhi larangannya. Kedua, keduniawian yang lebih memfokuskan pada pemenuhak kebutuhan duniawi semata, seperti pangkat, kedudukan, harta, jabatan, dan uang. Bila kita fokus pada perintah Allah SWT, insyaAllah kedua hal tersebut akan lebih mudah direngkuh, namun bila lebih menitik beratkan pada keduniawian, efeknya akan semakin jauh dari nilai nilai kebaikan sebagai bekal di akhirat kelak.
Suku Bunga Negatif Perbankan Jepang
Tokyo - Sebuah langkah yang mengejutkan, bank sentral Jepang, Bank of Japan akan menerapkan suku bunga negatif.
Suku bunga acuan Jepang akan ditetapkan -0,1%. Yang artinya, perbankan justru akan mengenakan biaya kepada para pemegang deposito, yang seharusnya pemegang deposito lah yang mendapatkan bunga dari perbankan.
Penerapan suku bunga negatif ini untuk menekan merosotnya ekonomi Jepang saat ini, yang merupakan ekonomi terbesar ketiga di dunia.
Bank Sentral Eropa juga menerapkan hal yang sama untuk bisa menjaga perekonomiannya, yaitu dengan menerapkan kebijakan suku bunga negatif.
Keputusan tersebut telah disetujui oleh 5 dari 9 suara di rapat dewan gubernur BoJ.
"BoJ akan memangkas suku bunga ke negatif jika dinilai perlu," tulis Bank of Japan, seperti dilansir BBC , Jumat (29/1/2016).
Keputusan memangkas suku bunga akan terus berlanjut hingga target inflasi sebesar 2% bisa tercapai.
Mengapa Jepang membuat langkah ini?
- Jepang saat ini sedang menghadapi inflasi yang sangat rendah. Masyarakat Jepang kelebihan uang karena mereka lebih memilih berinvestasi dan menyimpan uangnya di bank dibandingkan untuk belanja.
- Pemotongan biaya pinjaman perbankan. Ini dimaksudkan untuk meningkatkan pengeluaran domestik dan investasi bisnis.
- Hal ini juga bertujuan untuk mendorong kenaikan inflasi. Masyarakat Jepang didorong untuk membelanjakan uangnya ketimbang menyimpannya di bank.
Inflasi Jepang per Desember 2015 tercatat hanya 0,1%, jauh di bawah target bank sentral Jepang.
Bursa saham Asia naik dan nilai tukar yen jatuh di seluruh perdagangan merespons pengumuman tersebut.
"Suku bunga negatif adalah salah satu instrumen yang terakhir yang akan dilakukan BOJ," kata Martin Schulz dari Fujitsu Institute di Tokyo.
Schulz memperingatkan bahwa di zona euro, suku bunga negatif dilakukan untuk mengatasi krisis keuangan, sedangkan Jepang untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi yang selama ini bejalan lambat.
"Di Jepang, penyaluran kredit tidak gencar bukan karena bank tidak mau meminjamkan, tetapi karena mereka tidak melihat perspektif bisnis yang bagus ke depan, dengan suku bunga negatif sekali pun".
"Mereka membutuhkan peluang investasi dan itu hanya dapat dicapai oleh reformasi struktural,bukan dengan kebijakan moneter," katanya.
(drk/hns)
Sumber:detik.com
Test Potensi Akademik (TPA) dan Test of English As Foreign Language (TOEFL) organized by DIKTI
Pada awal tahun 2010, Dirjen Dikti menyelenggarankan test potensi akademik (TPA), dan test bahasa inggris (Toefl) bagi dosen yang berada dibawah kementerian tersebut. Saat itu, seperti biasa lembaga dimana saya bernaung mengalami kendala birokrasi seperti surat yang sangat lambat untuk didistribusikan untuk sampai ke si penerima. Benar saja, informasi itu kami terima hanya berselang dua hari sebelum kedua test tersebut dilaksanakan. Tapi, ya begitulah kondisinya.

Terus terang, saat itu tidak ada informasi detail peruntukan hasil test tersebut. Apakah akan digunakan untuk menilai kinerja pegawai atau apa, terus terang saya tidak mendapatkan informasi valid. Yang ada di benak kami, hanya membayangkan bahwa ini adalah salah satu proses evaluasi dan mengukur kemampuan dosen sebagai tenaga pendidik akan kedua indikator yang berbeda tersebut.
Selang waktu dua hari, (efektifnya sih, satu setengah hari), tidak banyak persiapan yang bisa dilakukan, belum lagi sehari sebelumnya ada mata kuliah yang harus disampaikan ke mahasiswa. Singkat kata, tidak ada persiapan.

Teng tong…., Hari test tiba. Sambil ketawa ketiwi, karena memang gak ada persiapan. Test dilakukan dalam dua sesi. Sesi pertama, sesi pagi test potensi akademik dulu. Penyelenggaranya OTTO BAPPENAS.  Sungguh test yang melelahkan, dan harus dilakukan dengan strategi. Saya nyesal karena salah strategi disini, seharusnya kalo strategi saya benar, saya pasti bisa dapet skor yang jauh lebih baik. Setelah break ishoma, siang hari dilanjutkan dengan test bahasa inggris. Parahnya sound systemnya saat listening gak jelas, yah maklum saja, karena testnya di aula yang memang tidak dipersiapkan untuk test semacam ini.

Gak ditunggu tunggu, ternyata hasilnya keluar. Selebaran hasil test disebarkan ke seluruh dosen. Sebenarnya saya tidak begitu setuju dengan dibukanya hasil seperti itu. Untuk alasan privasi. Hasilnya ya, saya dapat skor yang biasa saja. 528 untuk TPA dan 470 untuk TOEFL. Ha ha ha. Seharusnya skor TPA tersebut bisa lebih tinggi mengingat saat mendaftar di Program Magister Sains Universitas Gadjah Mada tahun 2001, saya mendapatkan skor sedikit lebih dari 550, tepatnya 554,90. Sedangkan untuk bahasa inggris, Ini pengalaman pertama saya ikut test ITP-TOEFL. Di UGM, test bahasa inggisnya hanya diselenggarakan oleh Laboratorium Bahasa UGM, jadi bisa dikategorikan TOEFL Prediction, bukan ITP-TOEFL. Selain hasil test masuk, mungkin hasil test TPA dan TOEFL ini juga yang menunjang saya untuk bisa langsung diterima sebagai mahasiswa Program Magister Sains Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada tanpa melalui matrikulasi pada saat itu.

Sampai kedua skor tersebut kami terima, kami masih belum punya gambaran untuk apa skor tersebut. Kemudian, setelah berselang beberapa minggu, ada pengumuman undangan DIKTI untuk mengikuti program pelatihan bahasa inggris bagi dosen untuk studi lanjut di Luar Negeri.  Awalnya sih saya masuk cadangan untuk program tersebut, tetapi setelah beberapa minggu, bahwa saya termasuk yang diundang. Kata orang, kalo sudah rejeki gak akan kemana. Tapi ini belum akhir dari cerita. Saya akan sambung lagi cerita ini di kesempatan yang lain yaitu tentang program pelatihan bahasa inggris bagi dosen di Lingkungan Ditjen Dikti untuk Studi Lanjut di Luar Negeri.
Business Goals, Tujuan Mulia dalam Konteks Bisnis


Setiap orang memiliki impian, harapan, dan cita-cita. Tujuan inilah yang mengarahkan setiap individu untuk beraktivitas, bertindak, dan berprilaku agar tujuan semakin mungkin untuk terealisasi. Layaknya setiap individu, bisnis dapat dipandang layaknya individu. Oleh sebab itu, sangat penting untuk tersedianya tujuan yang dapat mengarahkan bisnis untuk dapat dengan mudah merealisasikannya.

Pada dasarnya, founding father (pendiri) suatu bisnislah yang meletakkan nilai dasar dari suatu bisnis. Semakin baik nilai dasar yang ditetapkan, yaitu nilai dasar yang mampu untuk mengantisipasi perubahan dan menjawab tantangan kedepannya, lah yang dapat menentukan apakah suatu bisnis itu dapat survive dan memiliki perkembangan yang sustainable. Begitu pentingnya nilai dasar ini sehingga secara formal, semakin besar suatu bisnis, semakin penting rasanya untuk memiliki blue print nilai dasar tersebut, untuk dapat tertanam di seluruh lapisan individu yang terlibat di dalam organisasi.

Bagaimana prosedur formal yang umumnya diformulasikan perusahaan pada umumnya sebagai berikut. Pendiri perusahaan menjaga nilai dasar perusahaan kemudian mengembangkannya melalui cara yang natural sebagaimana dengan meningkatnya kompleksitas bisnis. Peningkatan jumlah pegawai misalnya dilakukan melalui proses seleksi yang mensyaratkan calon pegawai yang memiliki kemiripan pandangan dengan si pendiri perusahaan. Begitu seterusnya sehingga ada efek bola salju terhadap prosedur penjaringan pegawai baru tersebut.

Selanjutnya, secara formal ditetapkanlah visi, misi, strategi, taktik, melalui koridor kredo yang telah dibawah pendiri perusahaan. Visi merupakan mimpi mulia yang akan dicapai oleh perusahaan. Dalam perumusannya, visi tidak ditentukan untuk mudah direalisasikan. Umumnya berupa sesuatu yang hamper tidak mungkin untuk dicapai. Hal ini penting, karena bila visi mudah untuk dicapai, perusahaan akan mengalami disorientasi, dan akan meredam dinamika positif dalam organisasi. Efeknya, lemahnya inovasi dan matinya kreatifitas setiap individu dalam bisnis. 

Misi bertugas untuk menjabarkan berbagai tujuan yang lebih kecil yang dipersiapkan untuk memungkinkan visi dapat tercapai. Dengan penentuan tujuan yang lebih kecil dan realistis, maka misi membantu bisnis untuk mencapai tujuannya.  Sehingga secara kolektif, bila seluruh misi yang sudah ditetapkan telah tercapai barulah visi dapat terwujud. Seiring perjalanan waktu dan tantangan yang dinamis, maka diperlukan misi yang dapat menjawab tantangan tersebut. Ada kalanya misi dapat berubah tergantung prioritas dan kondisi. Adakalanya penjadwalannya yang disesuaikan terkait dengan kapan harus dimulai, dan kapan harus diselesaikan, dengan secara relative memandang berbagai misi lain yang telah ditetapkan. 

Panduan praktis untuk mencapai misi merupakan strategi. Secara umum strategi memang ditetapkan sebelumnya. Dipersiapkan untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang akan dihadapi pada saat menjalankan misi. Dalam skala yang lebih kecil, taktik diperlukan untuk merealisasikannya. Istilahnya, dengan taktik, maka dapat terjawab pertanyaan tentang bagaimana jika suatu rencana tidak dapat dijalankan, apa yang selanjutnya harus dilakukan, bagaimana rencana B nya, dan sebagainya.

Jadi karena ditetapkan dengan batasan visi yang memegang nilai nilai luhur, baik misi, strategi, maupun taktik akan juga benilai luruh dan mulia, sesuai dengan koridornya.
Salah Kaprah dalam Penulisan Latar Belakang Penelitian Pada Skripsi
Skripsi merupakan tugas akhir penelitian yang didesain untuk memberikan pembelajaran bagi mahasiswa tingkat strata-1 untuk menuangkan ide pemecahan masalah baik itu praktis maupun teoritis berdasarkan berbagai sumber dan seluruh bidang ilmu yang telah diperlajari selama masa studi.

Proses penulisan skripsi, yang dibimbing oleh minimal 2 dosen yang dianggap memiliki kapabilitas yang sesuai untuk membantu mengarahkan terselesaikannya tugas akhir ini, terkadang mememui berbagai kendala. Selain miskomunikasi antara mahasiswa dan pembimbing, tidak jarang terjadi perbedaan landasan pijak atas suatu topik penelitian yang menyebabkan perbedaan persepsi antar pembimbing. Ujung-ujungnya, mahasiswa menjadi bingung. Mau ngikuti yang mana? Namun perbedaan ini sebenarnya mudah untuk diatasi selama si mahasiswa punya dan mampu menunjukkan referensi yang cukup kuat untuk apa yang diyakininya benar.

Latar belakang penelitian, tidak terlepas juga dalam skripsi, menjadi sangat penting untuk dapat dikemukakan karena inilah yang mendasari mengapa suatu riset perlu dilakukan. Ketidak-mampuan menemukan dan memaparkan informasi yang relevan dalam menulis latar belakang membuat suatu penelitian (skripsi) sulit untuk dipahami signifikansinya. Ada beberapa salah kaprah penulisan latar belakang yang perlu untuk direnungkan kembali untuk diperbaiki kedepannya.

Di latar belakang penelitian, terkadang ditemukan berbagai penjelasan teoritis tentang riset yang akan dilakukan. Hal ini terkadang dipertegas dengan berbagai temuan atau hasil penelitian dari riset terdahulu. Ini kelihatannya bagus, tetapi menurut hemat saya kurat tepat. Kurang tepatnya dalam artian bahwa, umumnya penelitian di level S1 hanya menerapkan model yang sudah. Perbedaan hanya dititik beratkan pada objek penelitian dan periode pengamatan penelitian. Sehingga kurang tepat bila di latar belakang dipaparkan temuan riset terdahulu yang notabene menggunakan alat analisis yang sama. Bahasa sederhananya, tidak mungkin kita mendapatkan hasil yang lebih baik atau menemukan sesuatu yang baru bila kita menggunakan cara yang sama dengan cara sebelumnya.

Lantas, apa yang harus dipaparkan pada latar belakang penelitian? Jawabanya adalah data. Data sekunder yang diterbitkan oleh pihak terkait yang kredibel. Berbagai sumber data bisa diambil digunakan untuk memperjelas pentingnya (signifikansi) suatu riset dilakukan. Berbagai sumber data bisa diakses dan dipaparkan pada latar belakang. BPS, Bank Indonesia, asosiasi-asosiasi, lembaga survey, kementrian, dan berbagai referensi online terpercaya juga, baik dari dalam maupun luar negeri dapat dijadikan sumber data yang dipaparkan dalam latar belakang penelitian.

Tentu saja relevansi dalam hal ini sangat penting untuk diperhatikan. Perhatikan juga bahwa terkadang kita harus dapat memunculkan informasi dari data sekunder yang dipaparkan. Ini penting untuk untuk memudahkan pembaca memahami bagian penting dalam penelitian tersebut. Dengan tersedianya data, akan sangat mudah untuk mengidentifikasi rumusan masalah, begitu pula dengan tujuan penelitian dan manfaat penelitian.

Bagaimana dengan mahasiswa yang sudah menulis draf proposal penelitian dan hanya memasukkan  berbagai penjelasan teoritis dan temuan riset sebelumnya. Ya... tentunya harus dikembalikan ke habitatnya di bab selanjutnya yaitu landasan teori. Disinilah tempatnya penjelasan teoritis dan berbagai temuan atas topik yang akan diteliti. Bila tetap memaksakan ditempatkan di latar belakang, tentu sudah dapat ditebak bahwa penjelasan tersebut akan ditemukan juga di landasan teori. Terus bagaimana dengan konsep concise (singkat, jelas, dan padat) yang harus diikuti dalam melakukan riset. Benang merah penelitian juga lebih jelas bila kita tertib mengikuti aturan tersebut.
Menganggur itu Pilihan, Bukan Takdir
Saya pernah membaca salah satu artikel yang saya lupa sumber dan penulisnya. Tetapi ada hal penting yang terus teringat dalam pikiran saya. Iya seperti judul artikel ini, menganggur itu adalah pilihan, bukan takdir. Saya akan sedikit menulis terkait dengan itu.

Batasan tulisan saya ini saya arahkan untuk pria usia produktif. Karena bagaimanapun, di agama yang
saya yakini, pemenuhan kebutuhan keluarga merupakan tanggung jawab penuh seorang suami yang seorang laki-laki. Bahkan dalam kasus sang istri bekerja dan berpenghasilan, penghasilan istri adalah milik (hak) istri sendiri, sedangkan penghasilan suami merupakan milik (hak) istri juga.

Terbayang jelas bahwa tanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarga jelas ada di tangan laki-laki. Bahkan dengan aliran emansipasi wanita, seharusnya kedudukan wanita yang mulia ini tetap tidak bisa dibandingkan dengan pria. Masing-masing memiliki keistimewaannya masing-masing dengan peran yang spesial juga.

Iya, menganggur memang pilihan. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendapatkan rezeki yang halal dari Allah SWT. Namun setiap pilihan profesi memiliki resiko dan konsekuensinya masing-masing. Mau kerja kantoran di Bank, harus siap dengan dedikasi tinggi dengan waktu yang terbatas untuk keluarga, dimana harus pergi pagi pulang sore menjelang malam, atau terkadang malam sekalian. Belum lagi untuk pekerja yang berada di kota-kota besar, dihadang macet saat berangkat dan pulang kantor merupakan hal yang jamak.

Demikian pula dengan mengambil pilihan sebagai seorang pengusaha. Dalam merintis bisnis, diperlukan curahan waktu, tenaga, dan bahkan uang untuk memulai dan mengembankan bisnis. Belum lagi hambatan psikologis, dimana sebagian masyarakat di Indonesia tidak disiapkan oleh orang tuanya untuk siap berwirausaha. Memiliki mental baja, kreatif, inovatif, tidak gampang menyerah, dan mengabaikan gengsi. Seiring perkembangan usaha, kebanyakan berujung kegagalan, dan hanya segelintir saja yang tetap survive dengan kondisi yang begitu begitu saja, dan sangat-sangat jarang yang kemudian bertahan dan bertumbuh menjadi besar, mendiversifikasi usahanya ke berbagai lini bisnis, dengan title pengusaha sukses yang melekat.

Apapun profesinya, ambil kata tidak sebagai pegawai, setiap orang memiliki potensinya masing masing yang Allah berikut untuk dapat dikembangkan dan secara adil akan mendapatkan rezeki-Nya. Berapapun besaran pendapatan saat ini bukan merupakah hal yang penting. Yang penting bahwa pendapatan yang diperoleh dapat digunakan untuk kepentingan keluarga, berbagai dengan yang lain dengan zakat, infaq, dan sodaqah. Tidak ada aturan pasti berapa penghasilan manimal yang harus setiap individu hasilkan dari aktivitas produktifnya, hanya ada aturan besaran persentase kewajiban membayarkan hak orang lain yang harus ditunaikan.

Bagi yang masih muda dan masih banyak belajar, sangat wajar jika penghasilan belum dapat sebagaimana yang diimpikan orang pada umumnya. Dengan ketekunan dan ikhtiar tanpa lelah, suatu saat harapan dan impian positif yang sudah ditanamkan sejak awal akan mengarahkan setiap langkah dan aktivitas untuk membangun titian menuju kesuksesan hakiki. Sukses dunia dan akhirat.
Jadi harus terus diingat bahwa menganggur itu pilihan (atas kompromi terhadap gengsi, pandangan orang yang belum tentu benar, dan steriotip pesimisme masyarakat), dan bukan merupakan takdir. Mengubah pendangan kita sedikit saja tentang kompromi tersebut bisa mengubah drastis hidup seseorang secara mengejutkan.
  • Komen Terkini