| Kategori Iklan*: | Handphone & PDA |
| Judul Iklan*: | Apple iphone 4G 32gb and BlackBerry Slider 9800 |
| Isi Iklan*: | We have in stock Brand new Apple iPhone 3GS,HTC HD2,Blackberrry Onyx 9700, Blackberry Storm 2, Nokia N900, Nokia N97 Mini. All original in factory sealed boxes plus 12 months international warranty. This phone is unlocked and can be used with any SIM card. Pin already Unlocked. Offer Ramadan promo: Buy 3 get 1 free... Buy 5 get 2 free... Apple iphone 4G 32gb $400.00 Apple iPhone 3Gs 32gb $310.00 Apple iPhone 3Gs 16gb $240.00 Apple iPhone 3G 16gb $280.00 Apple iPhone 3G 8gb $200.00 Apple iPad Tablet Wifi 64GB..$300 Apple MacBook Pro – Core 2 Duo 2.8 GHz – 17 " – 4 GB Ram – 500 GB HDD 600usd HTC HD2 $290.00 HTC Hero $250.00 Blackberrry Onyx 9700 $280.00 Blackberry Storm 2 $260.00 Blackberry Tour 2 9650 Smartphone 280usd BlackBerry Torch 9800 Slider $320 Nokia N8 $340.00 Nokia N900 $280.00 Nokia N97 Mini $300.00 Motorola Milestone $300.00 Sony Ericsson Xperia X2 $305.00 Samsung I9000 Galaxy S Smartphone Unlocked 290usd Other Models are also Available. Shipping is made by Dhl and they deliver in 48hours to your address.. Interested Buyers Should Please Contact: Yahoo Messenger: fandy_store@yahoo.com MSN: fandy_store@hotmail.com Google Talk : fandy.store00@gmail.com Allah Bless as you contact.. |
| Harga (Rp.)*: | 3500000 |
| Gambar*: | Apple iphone 4G.jpg |
| Nama Kontak*: | fandy |
| Alamat*: | indonesia |
| Kota*: | jarkata |
| Telpon / HP*: | 546746442 |
| Email*: | fandy_store@yahoo.com |
Powered by EmailMeForm
Di negeri ini siapa yang tidak kenal dengan Abu Rizal Bakrie. Akibat krisis ekonomi tahun 1998 hutang usahanya menjadi lebih besar daripada aset yang dimilikinya. Sebelum kemudian ia masuk dalam bisnis pertambangan yang saat itu tidak banyak dilirik orang.
Lihat juga bagaimana kasus televisi swasta nasional TPI. Kisruh akibat ketidak mampuan membayar obligasi jatuh tempo membuat perusahaan ini menjadwalkan ulang kembali hutangnya hingga akhirnya terjadi restrukturisasi kepemilikan perusahaan. Walaupun sempat di klaim bangkrut, yang hingga saat ini belum ada putusan atas itu.
Dua kasus diatas hanya sekelumit kasus dari berbagai kasus serupa terkait dengan struktur modal perusahaan. Kita akan mencoba membahas mengapa ini bisa terjadi. Secara rasional pemberi hutang tentunya tidak mau menginvestasikan dananya pada instrumen yang risikonya tidak sebanding dengan tingkat pengembalian yang diharapkannya.
Terjadinya hutang lebih besar dari aset dapat dijelaskan dengan dua pendekatan yaitu risiko bisnis dan risiko sistematis. Risiko bisnis merupakan risiko yang melekat terkait karakter spesifik bisnis itu sendiri sedangkan risiko sistematis lebih pada risiko yang akan diterima oleh semua usaha secara luas. Contoh sederhanya yah kasus krisis ekonomi tadi. Hutang yang diperoleh dari pihak asing dan dalam mata uang asing saat krisis besarannya menjadi berlipat 5 hingga 8 kali lipat sedangkan nilai aset perusahaan tidak banyak berubah.
Pertanyaan yang muncul terkait kondisi hutang lebih besar dari aset adalah apakah serta merata perusahaan menjadi bangkrut. Melihat dari kasus Bakrie dan TPI diatas bisa disimpulkan bahwa perusahaan tidak serta merta bangkrut. Harus ada delik pengaduan dari pihak yang merasa dirugikan dulu baru kemudian kasusnya akan disidangkan di pengadilan perdata. Putusan sidang ini yang kemudian akhirnya menyatakan bahwa perusahaan tersebut bangkrut atau tidak.
Lihat juga bagaimana kasus televisi swasta nasional TPI. Kisruh akibat ketidak mampuan membayar obligasi jatuh tempo membuat perusahaan ini menjadwalkan ulang kembali hutangnya hingga akhirnya terjadi restrukturisasi kepemilikan perusahaan. Walaupun sempat di klaim bangkrut, yang hingga saat ini belum ada putusan atas itu.
Dua kasus diatas hanya sekelumit kasus dari berbagai kasus serupa terkait dengan struktur modal perusahaan. Kita akan mencoba membahas mengapa ini bisa terjadi. Secara rasional pemberi hutang tentunya tidak mau menginvestasikan dananya pada instrumen yang risikonya tidak sebanding dengan tingkat pengembalian yang diharapkannya.
Terjadinya hutang lebih besar dari aset dapat dijelaskan dengan dua pendekatan yaitu risiko bisnis dan risiko sistematis. Risiko bisnis merupakan risiko yang melekat terkait karakter spesifik bisnis itu sendiri sedangkan risiko sistematis lebih pada risiko yang akan diterima oleh semua usaha secara luas. Contoh sederhanya yah kasus krisis ekonomi tadi. Hutang yang diperoleh dari pihak asing dan dalam mata uang asing saat krisis besarannya menjadi berlipat 5 hingga 8 kali lipat sedangkan nilai aset perusahaan tidak banyak berubah.
Pertanyaan yang muncul terkait kondisi hutang lebih besar dari aset adalah apakah serta merata perusahaan menjadi bangkrut. Melihat dari kasus Bakrie dan TPI diatas bisa disimpulkan bahwa perusahaan tidak serta merta bangkrut. Harus ada delik pengaduan dari pihak yang merasa dirugikan dulu baru kemudian kasusnya akan disidangkan di pengadilan perdata. Putusan sidang ini yang kemudian akhirnya menyatakan bahwa perusahaan tersebut bangkrut atau tidak.
Berdasarkan berbagai sumber, demokrasi adalah bentuk atau mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah negara tersebut.
Sebagai sistem buatan manusia, keterbatasan dan tantangan dari sistem demokrasi menjadi satu hal yang harus diperhatikan. Perlu dilakukan berbagai penyempurnaan didalamnya. Keterbatasan tersebut antara lain, pertama, dana kampanye yang sangat besar. Tidak kurangan dari 7,4 trilyun rupiah digelontorkan untuk pesta rakyat ini. Dana tersebut belum termasuk dana yang dikeluarkan oleh calon pejabat dari kontong pribadi dan dari partai yang mengusungnya.
Kedua, demokrasi memungkinkan munculnya raja-raja kecil di daerah-daerah. Proses pemilihan setingkat gubernur dan bupati secara politik terlihat janggal untuk dapat memenuhi komitmen yang telah ditetapkan pemerintah pusat. Gubernur yang sudah menjabat, sulit rasanya untuk bisa diberhentikan begitu saja oleh presiden bila yang bersangkutan tidak melakukan tindakan melawan hukum.
Ketiga, terlahirnya pejabat yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan program kerja yang nyata. Orientasi yang berbeda antara kampanye sebagai suatu proses untuk menduduki jabatan tertentu yang lebih cenderung banyak menawarkan mimpi-mimpi kepada masyarakat yang akan dipimpinnya, dengan orientasi realitas dimana kondisi ini banyak mementahkan dan sebagai alasan utama dalam tidak berjalan dan ketidak tercapaianya mimpi yang ditawarkan dalam masa kampanye tersebut.
Empat, pejabat yang terpilih merupakan representasi kondisi mayoritas masyarakat yang dipimpin. Bila secara umum mentalitas masyarakatnya adalah koruptor, maka yang terpilih sebagai pejabat tidak pelak adalah koruptor juga, atau setidaknya menuju kearah itu. Tidak terbuka kesempatan untuk seorang yang tidak populer untuk bisa menjadi pejabat melalui mekanisme ini.
Kelima, yang tidak kalah pentingnya adalah rendahnya independensi pejabat dari pengaruh partai yang mengusung terhadap keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan yang akan diambil. Pertaruhan kepentingan pasti akan terjadi. Konflik ini terpotensi melahirkan kebijakan yang tidak pengarah pada kemaslahatan masyarakat.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah dengan menganut demokrasi kita dapat mengeliminir berbagai tantangan tersebut?
Sebagai sistem buatan manusia, keterbatasan dan tantangan dari sistem demokrasi menjadi satu hal yang harus diperhatikan. Perlu dilakukan berbagai penyempurnaan didalamnya. Keterbatasan tersebut antara lain, pertama, dana kampanye yang sangat besar. Tidak kurangan dari 7,4 trilyun rupiah digelontorkan untuk pesta rakyat ini. Dana tersebut belum termasuk dana yang dikeluarkan oleh calon pejabat dari kontong pribadi dan dari partai yang mengusungnya.
Kedua, demokrasi memungkinkan munculnya raja-raja kecil di daerah-daerah. Proses pemilihan setingkat gubernur dan bupati secara politik terlihat janggal untuk dapat memenuhi komitmen yang telah ditetapkan pemerintah pusat. Gubernur yang sudah menjabat, sulit rasanya untuk bisa diberhentikan begitu saja oleh presiden bila yang bersangkutan tidak melakukan tindakan melawan hukum.
Ketiga, terlahirnya pejabat yang tidak memiliki jiwa kepemimpinan dan program kerja yang nyata. Orientasi yang berbeda antara kampanye sebagai suatu proses untuk menduduki jabatan tertentu yang lebih cenderung banyak menawarkan mimpi-mimpi kepada masyarakat yang akan dipimpinnya, dengan orientasi realitas dimana kondisi ini banyak mementahkan dan sebagai alasan utama dalam tidak berjalan dan ketidak tercapaianya mimpi yang ditawarkan dalam masa kampanye tersebut.
Empat, pejabat yang terpilih merupakan representasi kondisi mayoritas masyarakat yang dipimpin. Bila secara umum mentalitas masyarakatnya adalah koruptor, maka yang terpilih sebagai pejabat tidak pelak adalah koruptor juga, atau setidaknya menuju kearah itu. Tidak terbuka kesempatan untuk seorang yang tidak populer untuk bisa menjadi pejabat melalui mekanisme ini.
Kelima, yang tidak kalah pentingnya adalah rendahnya independensi pejabat dari pengaruh partai yang mengusung terhadap keputusan-keputusan dan kebijakan-kebijakan yang akan diambil. Pertaruhan kepentingan pasti akan terjadi. Konflik ini terpotensi melahirkan kebijakan yang tidak pengarah pada kemaslahatan masyarakat.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah dengan menganut demokrasi kita dapat mengeliminir berbagai tantangan tersebut?
Baru baru ini saya menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) dari suatu koperasi. Ada berbagai hal yang disampaikan di pertemuan tersebut. Berbagi pendapat untuk kemajuan koperasi hingga penyampaian laporan pertanggung-jawaban pengelolaan koperasi tersebut.
Pembahasan utamanya arahnya adalah upaya memajukan koperasi dengan meningkatkan proporsi pendapatan yang bersumber dari penjualan daripada pendapatan dari bunga atas pinjaman ke anggota.
Ada beberapa outline yang menjadi saran, pertama mengenai adminstrasi dan surat menyurat, kedua, terkait strategi peningkatan pendapatan, dan yang ketiga adalah rencana program kerja dengan menjalin lebih banyak kemitraan.
Terkait adminstrasi dan surat menyurat, perlu dilakukan banyak pembenahan mengenai standar. Kegagalan dalam pengelolaan ini menyebabkan timbulnya demotivasi dari anggota dan pengurus koperasi. Tugas dan tanggung jawab pengurus dan anggota harus diungkap secara gamblang di AD/ART dan dikomunikasikan pada seluruh anggota dan pengurus. Tidak kalah pentingnya adalah kekonsistenan dalam menjalankannya.
Wacana pengelolaan secara syariah juga muncul. Tujuannya jelas adalah agar usaha mulia yang dilakukan koperasi harus juga didukung dengan tatanan yang mulia pula. Tujuan yang baik bila dijalankan dengan cara yang keliru akan memberikan dampak negatif di masa yang akan datang.
Unsur kehati-hatian tetap menjadi prioritas bagi pengelolaan koperasi. Implikasinya, selain menganut sistem antrian atas pengajuan kredit, diperlukan analisis lebih untuk mengantisipasi potensi kerugian dan ketidak-nyamanan anggota. Namun disisi lain tetap mempertimbangkan aspek humanis dan tingkat kritikal.
Program peningkatan pendapatan melalui peningkatan peran penjualan produk di kalangan anggota koperasi maupun pihak luar menjadi perhatian penting. Kendala terbesar adalah adanya aturan bersama yang menetapkan margin laba sebesar 10% dari harga pembelian. Sampai akhir pertemuan pembahasan mengenai hal ini tetap menemui jalan buntu. Alternatif solusi yang diajuakan dengan melalukan pembelian secara partai untuk mendapatkan harga diskon juga termentahkan karena skala penjualan koperasi yang relatif masih kecil. Membangun kemitraan tentunya selain komitmen perlu juga kinerja yang baik untuk menjamin pola kerjasama yang saling menguntungkan.
Menurut saya, aturan yang kaku mengenai margin laba yang sama untuk setiap produk ada baiknya dipertimbangkan kembali. Perlu dilakukan penelitian kecil tengan pengaruh harga terhadap permintaan produk yang dijual di koperasi. Bila elastisitas permintaanya tinggi maka kebijakan penetapan margin laba yang tinggi kelihatannya kurang tepat. Tekan margin laba agar harga menjadi rendah (murah) dan dengan demikian permintaan (penjualan) akan produk akan meningkat.
Ingat hitung-hitungan dagang. Prioritaskan pada perputaran tanpa mengabaikan margin laba. Itu yang penting. Margin laba 2% mungkin terlihat kecil, akan tetapi bila perputaran penjualannya tinggi maka secara kumulatif dalam satu periode akan diperoleh margin laba yang relatif tinggi. Coba bandingkan lebih baik menjual 1000x dalam satu tahun dengan margin 2% atau 50x dengan margain 10% dalam setahun (2000% vs 500%). Tetapi harus tetap diingat asumsi elastisitas harga terhadap permintaan tadi.
Peningkatan pangsa pasar juga harus diutamakan, jangan membatasi diri hanya pada anggota saja. Potensi terbesar dapat diraup dari konsumen diluar anggota. Coba hitung berapa jumlah anggota koperasi anda yang ada. Sangat terbatas. Bila hanya berorientasi anggota maka tingkat pendapatan koperasi akan terbatas juga. Coba jajaki pemasaran yang lebih luas. Tidak mustahil skala ekonomis akan dapat dicapai dengan cara ini.
Meningkatkan pola kemintraan dengan pemasuk juga penting. Baik secara kualitas maupun kuantitas. Evaluasi pemasok yang sudah ada secara berkala sambil memantau keberadaan potensi suplier alternatif sehingga produk dan harga akan selalu dapat terjaga sesuai harapan koperasi.
Saran dan inspirasi dalam tulisan ini merupakan respon dari satu kasus koperasi tetapi mungkin saja bisa diaplikasikan pada koperasi-koperasi yang lain. Itu juga sebabnya arah pembahasannya adalah usulan solusi pemacahan permasalahan koperasi tersebut, sehingga masukan positif untuk pengelolaan koperasi lebih lanjut akan sangat berarti.
Pembahasan utamanya arahnya adalah upaya memajukan koperasi dengan meningkatkan proporsi pendapatan yang bersumber dari penjualan daripada pendapatan dari bunga atas pinjaman ke anggota.
Ada beberapa outline yang menjadi saran, pertama mengenai adminstrasi dan surat menyurat, kedua, terkait strategi peningkatan pendapatan, dan yang ketiga adalah rencana program kerja dengan menjalin lebih banyak kemitraan.
Terkait adminstrasi dan surat menyurat, perlu dilakukan banyak pembenahan mengenai standar. Kegagalan dalam pengelolaan ini menyebabkan timbulnya demotivasi dari anggota dan pengurus koperasi. Tugas dan tanggung jawab pengurus dan anggota harus diungkap secara gamblang di AD/ART dan dikomunikasikan pada seluruh anggota dan pengurus. Tidak kalah pentingnya adalah kekonsistenan dalam menjalankannya.
Wacana pengelolaan secara syariah juga muncul. Tujuannya jelas adalah agar usaha mulia yang dilakukan koperasi harus juga didukung dengan tatanan yang mulia pula. Tujuan yang baik bila dijalankan dengan cara yang keliru akan memberikan dampak negatif di masa yang akan datang.
Unsur kehati-hatian tetap menjadi prioritas bagi pengelolaan koperasi. Implikasinya, selain menganut sistem antrian atas pengajuan kredit, diperlukan analisis lebih untuk mengantisipasi potensi kerugian dan ketidak-nyamanan anggota. Namun disisi lain tetap mempertimbangkan aspek humanis dan tingkat kritikal.
Program peningkatan pendapatan melalui peningkatan peran penjualan produk di kalangan anggota koperasi maupun pihak luar menjadi perhatian penting. Kendala terbesar adalah adanya aturan bersama yang menetapkan margin laba sebesar 10% dari harga pembelian. Sampai akhir pertemuan pembahasan mengenai hal ini tetap menemui jalan buntu. Alternatif solusi yang diajuakan dengan melalukan pembelian secara partai untuk mendapatkan harga diskon juga termentahkan karena skala penjualan koperasi yang relatif masih kecil. Membangun kemitraan tentunya selain komitmen perlu juga kinerja yang baik untuk menjamin pola kerjasama yang saling menguntungkan.
Menurut saya, aturan yang kaku mengenai margin laba yang sama untuk setiap produk ada baiknya dipertimbangkan kembali. Perlu dilakukan penelitian kecil tengan pengaruh harga terhadap permintaan produk yang dijual di koperasi. Bila elastisitas permintaanya tinggi maka kebijakan penetapan margin laba yang tinggi kelihatannya kurang tepat. Tekan margin laba agar harga menjadi rendah (murah) dan dengan demikian permintaan (penjualan) akan produk akan meningkat.
Ingat hitung-hitungan dagang. Prioritaskan pada perputaran tanpa mengabaikan margin laba. Itu yang penting. Margin laba 2% mungkin terlihat kecil, akan tetapi bila perputaran penjualannya tinggi maka secara kumulatif dalam satu periode akan diperoleh margin laba yang relatif tinggi. Coba bandingkan lebih baik menjual 1000x dalam satu tahun dengan margin 2% atau 50x dengan margain 10% dalam setahun (2000% vs 500%). Tetapi harus tetap diingat asumsi elastisitas harga terhadap permintaan tadi.
Peningkatan pangsa pasar juga harus diutamakan, jangan membatasi diri hanya pada anggota saja. Potensi terbesar dapat diraup dari konsumen diluar anggota. Coba hitung berapa jumlah anggota koperasi anda yang ada. Sangat terbatas. Bila hanya berorientasi anggota maka tingkat pendapatan koperasi akan terbatas juga. Coba jajaki pemasaran yang lebih luas. Tidak mustahil skala ekonomis akan dapat dicapai dengan cara ini.
Meningkatkan pola kemintraan dengan pemasuk juga penting. Baik secara kualitas maupun kuantitas. Evaluasi pemasok yang sudah ada secara berkala sambil memantau keberadaan potensi suplier alternatif sehingga produk dan harga akan selalu dapat terjaga sesuai harapan koperasi.
Saran dan inspirasi dalam tulisan ini merupakan respon dari satu kasus koperasi tetapi mungkin saja bisa diaplikasikan pada koperasi-koperasi yang lain. Itu juga sebabnya arah pembahasannya adalah usulan solusi pemacahan permasalahan koperasi tersebut, sehingga masukan positif untuk pengelolaan koperasi lebih lanjut akan sangat berarti.
| Kategori Iklan*: | Handphone & PDA |
| Judul Iklan*: | Blackberry Torch 9800 Slider Smartphone Unlocked |
| Isi Iklan*: | Product Includes BlackBerry Slider 9800 Smartphone Unlocked 300USD AC travel charger Standard battery Carry case USB data cable Sync software User manual Key Product Features HVGA display 512 MB of RAM, 4 GB of on-board storage Wi-Fi 802.11n BlackBerry (NSDQ: RIMM) OS 6.0 Yahoo Chat : Telecom_store@yahoo.com Email Purchase order :: Telecomstore.shop@gmail.com MSN Chat: Telecomstore.shop@hotmail.com Skype: Telecomstore.shop So we await your order . Thanks And Allah Bless Happy Ramadan Sales Manager : Ahmad Khairul Azizi |
| Harga (Rp.)*: | 3000000 |
| Gambar*: | |
| Nama Kontak*: | AZIZI |
| Alamat*: | 12 Kings street miri |
| Kota*: | kl |
| Telpon / HP*: | 60102995803 |
| Email*: | telecom_store@yahoo.com |
Powered by EmailMeForm
Semua orang terperangah ketika melihat pertumbuhan ekonomi China yang fantastis. Walaupun akhir-akhir ini terjadi kecenderungan melambatnya pertumbuhan ekonomi di China akibat pemerintah setempat mulai menahan kredit dan kecenderungan beberapa program stimulus ekonomi mulai hilang (www.bbc.co.uk).
Di kesempatan ini, kita akan mencoba mengulasnya agenda apa yang diusung China dengan "Made in China"-nya. Iya, ini merupakan kebijakan pemerintah China yang mewajibkan produsen-produsen global untuk mencantumkan label ”Made in China” bila memutuskan memproduksi produk mereka di negeri tirai bambu tersebut.
Strategi cerdik ini dirancang untuk mengubah persepsi konsumen global tentang kualitas produk buatan China dari inferior menjadi superior. Mendompleng standar kualitas produsen global tentunya sangat nguntungkan karena secara financial tentunya pemerintah tidak perlu mengeluarkan dana dalam jumlah besar untuk kepentingan ini. Disisi lain pemerintah diuntungkan dengan menurunnya tingkat pengangguran melalui penyerapan tenaga kerja oleh perusahaan global tersebut.
Mungkin China belajar banyak dari Jepang yang telah dianggap berhasil merebut presepsi kualitas superior bagi produk Jepang. Satu hal yang harus diingat bahwa Jepang mendapatkan kepercayaan ini melalui jaminanan kualitas produk dan jasa yang ditawarkannya. Ini memerlukan dana yang jumlahnya tidak sedikit. Biaya riset dan pengembangan memegang porsi yang sangat berarti dalam struktur biaya produksi.
Sementara itu, China memanfaatkan hasil riset dan pengembangan dari produsen global dengan cara yang lebih murah, karena tidak perlu membayar, dan yang paling penting adalah membuka kesempatan untuk alih teknologi melalui penempatan pegawai yang berasal dari negeri China.
Di kesempatan ini, kita akan mencoba mengulasnya agenda apa yang diusung China dengan "Made in China"-nya. Iya, ini merupakan kebijakan pemerintah China yang mewajibkan produsen-produsen global untuk mencantumkan label ”Made in China” bila memutuskan memproduksi produk mereka di negeri tirai bambu tersebut.
Strategi cerdik ini dirancang untuk mengubah persepsi konsumen global tentang kualitas produk buatan China dari inferior menjadi superior. Mendompleng standar kualitas produsen global tentunya sangat nguntungkan karena secara financial tentunya pemerintah tidak perlu mengeluarkan dana dalam jumlah besar untuk kepentingan ini. Disisi lain pemerintah diuntungkan dengan menurunnya tingkat pengangguran melalui penyerapan tenaga kerja oleh perusahaan global tersebut.
Mungkin China belajar banyak dari Jepang yang telah dianggap berhasil merebut presepsi kualitas superior bagi produk Jepang. Satu hal yang harus diingat bahwa Jepang mendapatkan kepercayaan ini melalui jaminanan kualitas produk dan jasa yang ditawarkannya. Ini memerlukan dana yang jumlahnya tidak sedikit. Biaya riset dan pengembangan memegang porsi yang sangat berarti dalam struktur biaya produksi.
Sementara itu, China memanfaatkan hasil riset dan pengembangan dari produsen global dengan cara yang lebih murah, karena tidak perlu membayar, dan yang paling penting adalah membuka kesempatan untuk alih teknologi melalui penempatan pegawai yang berasal dari negeri China.





