Selasa, 20 April 2021

Gambaran Fasilitas Hotel di Jepang

Jepang merupakan negara yang unik dan memiliki kearifan lokal yang menarik. Bangunan pribadi dan umum di Jepang, umumnya tidak didesain untuk terlalu luas, tetapi lebih kepada fungsional. Kearifan ini juga banyak diterjemahkan ke dalam bentuk bisnis yang dijalankan disana. Salah satu bentuk bisnis yang kental nuansa kearifan ini adalah di bisnis perhotelan.

Hotel yang didesain minimalis, tidak luas tetapi penuh dengan fitur standar yang fungsional. Bagaimana fitur itu, bisa di lihat pada video berikut: 

Hotel facilities in Japan

Pembayaran hotel ini dilakukan dengan menggunakan cash payment machine. Otomatisasi menjadi sangat penting untuk menghemat biaya. Di sisi lain, fitur layanan yang diberikan secara detail bisa terlihat di video diatas, dengan single bed ber air conditioning system yang memiliki fitur pendingin dan pemanas ruangan. Ini penting mengingat jepang memiliki musim panas dan dingin. Saat berkunjung kesana, suhu luar ruangan di pagi hari hanya berkisar 5 derajat celcius. Sehingga pada saat exhale pernapasan, biasanya ada semacam uap yang keluar dari mulut atau hidung kita. Dengan fitur AC semacam ini, maka suhu ruangan yang diinginkan dapat diatur sedemikian rupa.

Fasilitas lain, mirip dengan hotel minimal bintang 4 di Indonesia, tetapi hanya ukuran ruangan saja yang lebih kecil. Fasilitas seperti wifi internet, hair dryer, water boiler, TV, and hot and cold water in the bathtub lengkap dengan hot water di dalamnya. Dengan harga yang lumayan, hampir 2 juta per malam. So that why I said that for me, it was too expensive.

But, the most interesting feature -nya adalah fitur ramah lingkungan yang disediakan. Lampu akan menyala sesuai kebutuhan. Dengan bantuan sensor yang dapat mendeteksi kehadiran seseorang, saat kita mendekat daerah tertentu, lampu akan otomatis menjadi semakin terang yang cukup untuk menerangi pengunjung, semikian pula sebaliknya. 

Di kesempatan lain, kita akan membahas bagaimana hotel kapsul di pusat kota Jepang. Fenomena unik tentang akomodasi yang relatif terjangkau yang bisa digunakan di jantung kota Tokyo.


Sabtu, 17 April 2021

Cash Payment Machine: Satu lagi yang unik di Jepang tentang Mekanisme Reservasi Hotel

Tingginya upah tenaga kerja di Jepang membuat bisnis yang ada disana berupaya untuk menghemat biaya dengan mengandalkan kemajuan teknologi. Otomatisasi ini bahkan telah merambah di berbagai bisnis hingga bisnis jasa perhotelan. Tidak banyak resepsionis dan chef yang diperkejakan di hotel, karena sebagaian dilakukan secara online. Mulai reservasi hingga proses pembayarannya.

Keuntungan atas dapat ditekannya biaya operasional juga dilakukan di berbagai aspek dalam bisnis ini. Selain pemangkasan biaya, keamanan dan kenyamanan proses pembayaran juga menjadi keuntungan lain yang ditawarkan. Alternatif metode pembayaran juga tersedia, yang tujuannya adalah memudahkan konsumen. Berikut adalah video gambaran bagaimana mesin pembayaran ini digunakan:

Cash Payment Machine at Hotel Reservation in Japan

Meskipun masih gaptek, asalkan berani mencoba, pasti bisa. Di bantu juga dengan seorang pria paruh baya, yang menjadi resepsionis tunggal hotel tersebut. Sangat ramah, tipikal orang Jepang, meskipun aku tidak mengerti apa yang dikatakannya. Untung saja, ada rekan kami Prof. Salamiah, yang sudah pernah cukup lama tinggal di Jepang dan fasih berbahasa Jepang karena beliau studi S2 dan S3 di negeri matahari terbit ini.

Pemesanan hotel sudah dilakukan beberapa hari sebelumnya dari tanah air. Namun pembayarannya baru dilakukan disana. Apesnya, aku dapet harga kamar yang paling mahal. Untuk kamar dan fasilitasnya nanti kita bahas tersendiri ya... Nah, proses pembayarannya ya.. menggunakan mesin tersebut. Saat kami tiba, kami diberi akses masuk dengan menggunakan kartu magnetik layaknya yang ada di hotel hotel tanah air, tetapi ini denga berfungsi tambahan yaitu juga sebagai alat yang pelanggan gunakan untuk membayar bill (baca: tagihan) sendiri, berdasarkan data yang sudah dibuat sebelumnya.

Jumat, 16 April 2021

Fasilitas Publik Di Jepang: Locker

Di Jepang, berbagai kota di desain agar memudahkan masyarakat dalam berbagai hal. Tidak hanya berbagai layanan dengan sistem terkomputerisasi yang terintegrasi, hingga layanan yang terkesan paling sederhana, ada juga tersedia disana. Salah satu layanan ini adalah loker publik. Berikut bagaimana rekaman video yang pernah saya dokumentasikan waktu berkunjung ke Jepang. 

Loker di Jepang

Fasilitas semacam ini tersedia di stasiun, bandara, dan berbagai sarana umum lainnya. Ini sangat membantu bagi pengguna masyarakat umum yang berencana untuk melanjutkan perjalanan ke temapat lain, karena hanya transit sebentar dan mengisi waktu tunggu dengan menuju ke berbagai tempat di sekitaran sarana umum ini, dengan tidak terbebani dengan membawa barang bawaan asal kesana kemari. 

Ada beberapa ukuran yang tersedia yang dibedakan berdasarkan harga sewanya.  Mulai dari 400 yen, atau senilai Rp.45 ribuan, hingga yang 700 yen, atau kira-kira Rp.80 ribuan. Pembayarannya umumnya menggunakan koin, akan tetapi ada juga yang dapat menggunakan uang kertas, dan alat pembayaran lain. Oh iya, alat self-service semacam ini sudah sangat banyak di Jepang. Upah tenaga kerja yang tinggi dan juga kemajuan teknologi telah menggesar sebagian kebiasaan berjualan secara konvensional, dan tergantikan dengan vending machine. Di posting yang lain, akan kita bahas hal ini. 

Di Indonesia, juga sudah mulai diperkenalkan, tetapi hanya terbatas untuk produk dan lokasi tertentu saja. Seperti di bandara dan beberapa tempat lainnya. Ada pengalaman lucu atas penggunaan mesin ini waktu di Bandara baru Jogjakarta. Kisahnya semoga bisa diceritakan di postingan mendatang.

Minggu, 10 Januari 2021

Pengelolaan Praktis Keuangan Keluarga di Masa Pandemi

Pandemi yang masih belum belas kapan akan berakhirnya membuat, seksli lagi, kita harus dapat lebih bijak dalam mengelola keuangan keluarga. Pengelolaan keuangan praktis perlu dilakukan tidak saja bagi keluarga yang memiliki pengahasilan tidak tetap, tetapi juga bagi keluarga yang memiliki penghasilan tetap atau bahkan double income. Ada tiga cara utama pengelolaan keuangan praktis di masa seperti ini antara lain, menambah penghasilan, membatasi pengeluaran, dan kombinasi keduanya.

Dalam hal menambah penghasilan, berbagai peluang dapat ditangkap dan dimanfaatkan sebaik mungkin, utamanya yang pengaruhnya besar terhadap pandemi. Mulai dari bisnis online yang menjual kebutuhan pemenuhan standar kesehatan, seperti masker, face shield, hand sanitiser, dan lain sebagainnya. Masyarakat yang bertidak protektif terhadap kemungkinan terpaparnya virus memerlukan proteksi ekstra untuk menangkal kontaminasi virus atau sumber penyakit lainnya. Bahkan menurut suatu sumber, lesunya penjualan mobil yang umum tidak dibarengi dengan lemahnya penjualan mobil mewah di masa yang sama. Sumber tersebut menyatakan bahwa sebagaian besar konsumen yang membeli mobil mewah di masa pandemi ini adalah konsumen yang membiliki bisnis alat kesehatan atau produk yang berhubungan dengan menjaga kesehatan.

Selain produk alat kesehatan yang khusus, masyarakat juga terus berupaya untuk meningkatkan daya tahan tubuh mereka dengan mengkonsumsi berbagai bahan makanan, atau pun produk yang diyakini dapat meningkatkan imunitas. Produk seperti madu, kurma, vitamin, sayur mayur, buah-buahan, dan rempah rempah seperti jahe, kunyit, temu lawak, dan lain sebagainya juga membutuh diburu di saat seperti ini. Peluang besar bila kita dapat memanfaatkannya kesempatan ini baik via online maupun offline. Namun kecenderungan orang untuk stay at home dan akses teknologi informasi yang lebih baik membuat kesempatan untuk bisnis online menjadi lebih prospektif.

Pundi pundi penghasilan juga dapat ditingkatkan dengan menjual makanan sehat siap saji. Sehat disini maksudnya selain dari bahan yang baik, juga diproses, dan disajikan secara higienis. Ini sangat penting mengingat banyak masyarakat akan sangat concern terhadap kesehatan makanan yang mereka konsumsi untuk menjaga stamina mereka atar tetap fit dan didukung dengan asupan gizi yang seimbang. Bagaimana menyakinkan bahwa makanan yang ditawarkan telah melalui proses kontrol yang ketat atas standar kesehatan, utamanya yang erat kaitannya dengan mengantisipasi terjangkitnya covid-19 yang tidak diinginkan bersama.

Selain menjual produk, bisnis jasa juga dapat dilirik. Kecenderungan untuk stay at home dan work from home membuat orang berupaya sebaik baiknya untuk membuat mereka tinggal dirumah dan bekerja dirumah dengan lebih nyaman. Jasa pembuatan furnitur tertentu mungkin cukup menjanjikan. Orang akan selalu mencari suasana baru dari rumah yang mereka huni. Contoh lainnya adalah bisnis penjualan dan pemasangan wall paper, bisnis bunga, taman, dan lain sebagainya tentunya sangat diminati dalam suasana seperti ini. Jasa lainnya juga seperti jasa pembuatan website atau akun sosial media enhancement, menjadi lebih banyak diminati. Jasa foto dan sekalian edit gambar juga bisa dilirik dimasa seperti ini.

Terkait dengan hobi, ada berbagai bisnis yang juga menawarkan keuntungan tersendiri. Penggunaan sepeda misalnya, yang digunakan sebaagi sarana olahraga masyarakat, bahkan sampai dengan tanaman hias, dan binatang peliharaan. Semuanya masih memiliki penggemarnya yang fanatik. Tentu juga harus didukung dengan pupuk dan pangan serta berbagai kebutuhan relevan lainnya. Sekali lagi, ini menjadi peluang bagus.

Setelah berbicara mengenai pemasukan tambahan yang dapat diperoleh, maka selanjutnya ada baiknya kita juga membahas mengenai bagaimana mengelola pengeluaran dengan bijak. Menahan untuk membelanjakan uang untuk sesuatu yang memang betul betul dibutuhkan menjadi tantangan tersediri, utamanya bagi yang sudah terbiasa untuk belanja berlebihan dengan intensitas yang tinggi. Perhatikan bahwa apakah sesuatu itu memang diperlukan, ataukah hanya merupakan keinginan semata yang mungkin tidak akan memiliki utilitas yang tinggi. Keinginan untuk update HP misalnya, mungkin untuk sementara ditunda dulu, mengingat belum terdapat lompatan yang berarti atas fitur teknologi yang ada sekarang. Teknologi 5G memang menggoda, tetapi sampai saat ini, layanan dengan broadband ini masih belum secara resmi diluncurkan ke publik. Ada berbagai handphone flagship yang sudah menawarkan ini, tetapi akan lebih bijak bila menunda dulu, siapa tau saat sudah tersedia jaringannya, ada produk hp yang lebih baru lagi yang akan menggoda untuk dibeli lagi. 

Keputusan untuk membeli pakaian baru, sebaiknya juga ditunda dulu. Memang efeknya panjang bagi usaha yang menggeluti bidang ini, mereka akan terimbas dengan keputusan ini, namun kondisi ekonomi memang menekan segalanya sehingga pelaku usaha ini akan memikirkan juga untuk menawarkan produk sesuai kebutuhan pelanggan seperti misalnya membuat masker dan lain sebagainya. Poinnya adalah bagaimana kita bisa menekan pengeluaran di bidang ini, dengan harapan dapat mengalokasikannya pada hal yang mungkin lebih penting dan mendesak, misalnya untuk kepentingan berobat, atau bahkan membantu sanak keluarga yang terdampak secara ekonomi dari adanya pandemi ini.

Bahkan untuk bagi seragam anak sekolah, mungkin harus disikapi dengan bijak untuk tidak membeli keseluruhan diawal, mengingat proses belajar  mengajar masih berbentuk daring. Dikhawatirkan juga, pertumbuhan akan yang cepat juga akan membuat apa yang sudah kita beli di awal tahun ajaran menjadi kekecilan dan akhirnya harus beli yang baru lagi. Ada baiknya untuk menglokasikannya pada hal yang lebih perlu misalnya untuk membeli gawai yang dapat digunakan untuk mendukung proses belajar mengajar.

Pengeluaran untuk investasi harus dipertimbangkan dengan matang. Saat ini, selain merupakan waktu yang tepat untuk berinvestasi di sektor tertentu, karena banyak pihak yang tidak mampu bertahan di terpa krisis ini, dan mereka kepepet perlu uang, biasanya asset dijual cepat dengan harga miring. Tetapi tetap harus bijak juga mengingat keperluan mendasar kita harus dapat diproyeksikan kedepannya untuk tetap dapat tercukupi dengan dana yang tersedia. Jangan telalu berharap untuk mendapatkan keuntungan yang cepat dari investasi yang dilakukan pada masa seperti ini. Lebih bijak lah untuk mengantisipasi semuanya.

Menggunakan layanan pemerintah melalui asuransi kesehatan yang ditawarkan, mungkin juga merupakan salah satu solusi dalam pengelolaan keuangan. Meskipun demikian, kita tetap harus mencadangkan dana untuk keperluan yang sifatnya mendesak dan tiba-tiba seperti karena sakit, dan lain sebagainya.

Terkait dengan barang atau jasa yang dikonsumsi secara rutin yang sudah menjadi kebutuhan mendasar, mau tidak mau tetap harus dipenuhi, namun bagaimana cara pemenuhannya menjadi hal yang perlu diperhatikan. Mengurangi intensitas belanja dengan cara membuat daftar belanjaan dan membeli dalam jumlah yang relatif lebih banyak untuk sekali belanja dan berbelanja di tempat yang terkenal lebih murah bisa menjadi satu alternatif bagus. Perbedaan jumlah uang yang dikeluaran terkadang sangat signifikan, dapat menghemat jauh lebih banyak. Namun perlu diperhatikan, apakah di rumah tersedia tempat atau media untuk penyimpanan yang cukup untuk menyimpan sementara bahan makanan yang sudah dibeli sebelum diolah menjadi makanan jadi. Kapasitasi lemari pendingin disini perlu diperhatikan, dan juga masa kadaluarsa dari produk yang akan dibeli juga perlu diperhatikan. 

Akhir kata, secara naluriah biasanya kita semua bisa mengatasi dan melakukan berbagai hal yang telah dipaparkan diatas. Tetap berlaku bijak untuk berinvestasi untuk meningkatkan pendapatan dan di saat yang sama harus dapat juga mengelola pengeluaran dengan baik. Kombinasi keduanya bila dilakukan dengan baik akan setidaknya mengurangi dampak pandemi dan krisis yang ada.

Rabu, 06 Januari 2021

Suka Duka Sekolah dan Kuliah dengan Proses Belajar Mengejar Secara Daring (Online)

Pandemi covid 19 yang telah berlansung selama kurang lebih setahun, banyak sekali membuat perubahan dalam tata pola kehidupan kita. Pandemi ini juga menyebabkan mati surinya berbagai profesi. Namun, disisi lain, profesi atau perusahaan tertentu bahkan dapat membuat keuntungan ekstraordinary. Banyak saudara-saudara kita yang kurang beruntung dengan adanya kondisi semacam ini. 

Demikian juga dengan profesi pendidik. Meskipun banyak yang melihat bahwa profesi ini tidak terlalu terimbas dengan pandemi, tetapi kenyataannya tidak demikian. Untuk lebih meningkatkan pemahaman dan pengetahuan tentang profesi ini. 

Sesuai dengan judul, sukanya profesi ini antara lain, penghasilan hampir tidak berubah, kerja dari rumah, dan dengan demikian, dapat lebih dekat dengan keluarga.  Bagi PNS penghasilan sebagai pendidik mungkin tidak banyak perubahan, kecuali terkait honor honar tertentu yang umumnya ada bila ada kegiatan. Selain itu, terkait beraktivitas di dalam rumah sudah menjadi impian banyak orang, tentu karena selain dapat intens berkumpul dengan keluarga, juga dapat dapat lebih beraktivitas sambal melakukan aktivitas lain yang tidak mungkin dilakukan di sekolah atau kampus.

Namun sayang, tidak semua yang kelihatannya indah itu seindah aslinya. Setumpuk pekerjaan yang menunggu karena tugas harus dilakukan secara daring, yang ini memerlukan penyesuaian kebiasaan baru. Bagi yang muda, mungkin ini bukan suatu masalah, tetapi bagi yang lebih tua, yang sudah tidak cukup fleksibel untuk berubah menyesuaikan tuntutan pekerjaan yang ada, ini menjadi suatu masalah yang berarti. 

Teknologi komunikasi membuat pekerjaan untuk profesi ini tidak mengenal batas waktu dalam bekerja. Tidak hanya terbatas 8 jam sehari sebagaimana layaknya karyawan atau pegawai kantor, profesi ini menuntut waktu yang lebih. Kelihatannya tatap muka hanya memakan waktu dua, tiga, atau empat jam sehari.  Namun harus dipahami bahwa membuat persiapan untuk proses belajar mengajar ini memakan waktu paling sedikit dua setengah jam untuk satu jam proses belajar menganjar. Secara jumlah waktu, untuk tatap muka 5 jam sehari, maka ekuivalen dengan 12,5 jam sehari. Belum lagi dengan membuat soal ujian, memeriksa tugas-tugas, ujian, dan membuat soal dan berbagai tugas administrator lainnya.

Kontak emosional akan sangat berbeda bagi perkuliahan online. Keterlibatan emosional yang tinggi dapat terjadi di ruang kelas. Pengalaman yang lebih dari suasana kelas dan nuansa interaksi sosial yang tercipta belum dapat digantikan dengan penggunaan teknologi ini. Efeknya juga dapat terlihat dari kecerdasan emosional yang perlu upaya berkali kali lipat untuk mendapatkan proses pembelajaran online. Ini juga akan sangat berpengaruh pada pengembangan sosial peserta didik.

Dari sisi peserta didik, sebagian ada yang senang (khususnya bagi yang cenderung introvert) dan sebagiannya lagi cenderung merasa kehilangan kontak sosial (bagi yang ekstrovert). Akibatnya, proses belajar mengajar dan perkulihan dilakukan secara "terpaksa". Tidak jarang terjadi pengabaian dengan memanfaatkan fitur teknologi konferen yaitu dengan menonaktifkan fitur kamera dan microphone sehingga peserta didik dapat mengikuti proses belajar mengajar sembari rebahan atau melakukan sesuatu yang lain, bahkan meninggalkan tempat sambil tetap mengaktifkan aplikasi konferensi tersebut di gadget mereka.

Bagi pendidik, ini semacam tantangan sendiri. Ini karena ketersedian akses internet yang belum merata ke seluruh masyarakat, utamanya yang letaknya relatif jauh terpencil. Memaksakan untuk terus online juga akan membuat timbulnya biaya yang berlebih dan tidak jarang ketidak stabilan koneksi internet membuat semakin tidak efektifnya proses belajar mengajar.

Semuanya kembali ke niatan masing-masing. Jelas bahwa pandemi sudah merampas kebebasan sebagian besar masyarakat. Bagaimana kita mensikapinya adalah hal yang lebih penting. Bagaimana juga mengoptimalkan proses transfer of knowledge and enhance the attitude melui kegiatan belajar mengajar secara daring

Kamis, 31 Desember 2020

Kesan Setelah Seminggu Menggunakan MacBook Pro 2017

Menepati janji dari tulisan sebelumnya Pengalaman Pertama Menggunakan MacBook Pro 2017 saya coba mereview pengalaman saya menggunakan laptop ini untuk menggantikan sementara HP Elitebook Folio 1040 G1 saya yang sebenarnya, baik-baik saja. Berikut poin-poinnya:

Secara umum, MacBook Pro 13 inch tahun 2017 saya ini, tampilan layarnya kurang terang. Sebagai tambahan info, saya gak suka pake laptop dengan tingkat kecerahan tinggi. Biasanya saya pake dengan tingkat kecerahan terendah. Kalau di Mac ini, hanya satu bar, yaitu satu bar diatas layar mati dan sayangnya layarnya berwarna agak pink gitu.  Saya gak tau apa ini hanya terjadi pada laptop saya aja yang memang beli second atau memang seperti ini. Tetapi bila dibandingkan dengan si Elitebook, meskipun dengan tingkat kecerahan 0%, laptop Hewlett Packard saya tersebut masih jauh lebih terang dengan warna yang lebih putih dibanding laptop besutan Apple Computer ini. Terapi ini mungkin hanya faktor kebiasaan saja.

Tentang keyboardnya, kesan saya sih, mungkin tidak senyaman si HP, bahkan jika dibandingkan dengan keyboard bluetooth murah, seperti yang saya gunakan pada postingan saat menggunakan Mi Pad 4. Tetapi, saya akui feel ngetiknya masih lebih baik dari Fujitsu Lifebook U772 dan mungkin hanya masalah kebiasaan aja. Oh iya, satu lagi tentang keyboad MacBook ini, bila dipakai mengetik suaranya agak berisik menurut saya, apalagi bila dalam kondisi hening. 

Kebutuhan mengajar streaming online dengan menggunakan aplikasi Zoom sebenarnya tidak ada kendala,  hampir sama dengan apa yang saya bisa dapatkan di Elitebook saya, tetapi keunggulannya mungkin ada di kameranya yang punya resolusi yang lebih baik. Tidak ada delay yang berarti. Batrei nya juga cukup tahan dipakai untuk Zoom atan Gmeet-an lebih dari 3 jam dan menyisakan sekitar 36% setelah itu. 

Browsing. Dengan menggunakan Safari dan Chrome, unit ini berjalan dengan baik. Pengalamannya sebanding dengan bila menggunakan laptop window saya. Kecepatannya juga lumayan, hanya saja saya perlu pembiasaan dengan OS Mac ini. Youtube-an dengan menggunakan browser menghasilkan suara yang empuk, yang bagus deh, sesuai dengan harganya, he he he.

Now, lets talk about its battery. Dengan setingan layar seperti ini, selain saya tidak suka yang terang, yang membuat mata cepat lelah, ketahanan baterai juga semakin panjang. Untuk aktivitas ngetik campur browsing, dengan setingan kecerahan layar semacam ini, MacBook ini bisa bertahan lebih dari 10 jam sebelum di charge kembali. Fantastis. Dengan setingan yang saya sebutkan di atas, laptop HP saya paling bisa bertahan 5 sampai 6 jam.

Jumat, 25 Desember 2020

Pengalaman Pertama Menggunakan MacBook Pro 2017


Bagi sebagian orang, MacBook adalah daily driver mereka. Komputer yang mereka gunakan dalam kesehariannya. Tetapi, bagi saya Windows adalah teman setia dalam membantu saya menjalankan setiap aktivitas saya. Membuat laporan, menyiapkan bahan ajar, setting perkuliahan online, video streaming, sampai mengerjakan berbagai proyek yah, menggunakan Windows. Bagi saya, saat itu tidak pernah terbayangkan untuk menggunakan komputer dengan sistem operasi lainnya. 

Dalam beberapa kesempatan, saat meeting offline dengan berbagai rekan kerja, semakin banyak diantara mereka yang menggunakan MacBook. Tetapi tetap saja, saya merasa bahwa laptop saya yang ber-OS windows lebih memudahkan saya. Saya mengerti, ini mungkin hanya faktor kebiasaan. Beberapa laptop windows yang masih aktif menemaniku antara lain HP Elitebook Folio 1040 G1, yang memang masih mengikat hatiku. Selain itu ada Fujitsu U772 yang bodynya aduhai. Kedua laptop premium tersebut sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk saya.

Sampai pada suatu ketika, tidak sengaja di marketplace muncul iklan laptop MacBook Pro 2014 dengan harga yang menawan. Ketauan udiknya begitu ngeliat unitnya, nyuruh orangnya untuk ngajarin hanya untuk sekedar menampilkan spesifikasi MacBook dan CC nya. He he he. Tetapi memang belum jodoh, kata sepakat pun tidak tercapai dan batallah transaksi. 

Sedang asyik nyari upgrade untuk HP folio ku, trus ada yang nawarin MacBook Pro 2017 dengan harga yang menggoda. Butuh uang katanya. Ternyata setelah dihubungi janjian ketemu esok harinya, dan apesnya, dia besoknya mengurungkan niatnya. Batal lagi nih, dałam hati. Tetapi berselang lebih dari seminggu dia me-WA dan nawarin unitnya. Tanpa pikir panjang, aku langsung buat janji ketemuan, dan akhirnya jadi deh dipinang.

Ketar ketir juga sih, soalnya ga ngomong sama istri sebelumnya. Begitu tau, dia gak marah, tapi cuman ngomong sebenarnya duitnya bisa dipake untuk kepentingan lain yang lebih penting. Tetapi dia menyadari bahwa memang tuntutan pekerjaanku seperti ini, jadi yah... dia oke oke aja. Terima kasih sayang. Selanjutnya, semoga di posting mendatang, saya bisa cerita pros dan cons nya menggunakan MacBook Pro 2017 ini. Karena mungkin terlalu dini kali saya langsung nulis topik tersebut hanya berselang 1 hari setelah pegang unitnya.


Gambaran Fasilitas Hotel di Jepang

Jepang merupakan negara yang unik dan memiliki kearifan lokal yang menarik. Bangunan pribadi dan umum di Jepang, umumnya tidak didesain untu...