Selasa, 30 Juni 2009

Risk and Return (Risiko dan Tingkat Pengembalian): Pengaruh Diversifikasi dalam Portofolio Terhadap Penurunan Risiko

Pernahkan Anda mendengar istilah portofolio? Iya. Portofolio merupakan kumpulan lebih dari satu instrumen investasi. Bisa terdiri dari logam, properti, surat berharga, mata uang, dan lain sebagainya. Komposisi pembentuk portofolio sangat beragam. Demikian juga dengan proporsi setiap jenis instrumen investasi terhadap total nilai investasi secara keseluruhan berbeda-beda sesuai dengan preferensi risiko orang atau organisasi pembentuk portofolio tersebut.

Ada slogan umum yang biasa digunakan dalam berinvestasi. Do not put your eggs in one basket. Jangan letakkan seluruh telur Anda dalam satu kerangjang. Sebab bila keranjang terjatuh, maka semua telur akan pecah. Ini adalah slogan yang biasa digunakan untuk menggambarkan anjuran untuk tidak menempatkan dana kita hanya dalam satu bentuk instrumen investasi. Misalnya hanya dalam bentuk tabungan.

Kita juga sering mendengar istilah diversifikasi. Diversifikasi memberikan makna bahwa dibentuknya portofolio dengan maksud untuk meminimalkan risiko. Jadi, di sini ada penekanan pada peminimalan risiko bukan peningkatan keuntungan. Terkait dengan hubungan diverisifikasi dengan peningkatan keuntungan mungkin perlu dikaji lebih dalam lagi, tetapi di kesempatan ini kita akan coba membahas lebih jauh mengenai diversifikasi dalam hubungannya dengan peminimalan risiko.

Untuk memahami lebih jauh tentang konsep diversifikasi kita akan membahasnya dalam tiga tahapan perspektif. Ilustrasinya sebagai berikut:
  1. Perspektif tunggal. Bayangkan bahwa kita memiliki dana Rp. 1 Milyar (tanpa mempertimbangkannya secara relatif terhadap hal lain).
  2. Perspektif ganda. Menempatkan dana kita dalam satu jenis mata uang saja akan sangat berbahaya. Ingat slogan telur dalam keranjang. Untuk mengantisipasi kemungkinan kerugian, yang harus dilakukan adalah membagi dana Rp 1 milyar menjadi dua bagian yang sama, yaitu Rp. 500 juta dan $. 50.000,- (asumsi $. 1 = Rp. 10.000,-). Maksudnya bila terjadi penurunan nilai rupiah maka kerugian selisih kurs dari adanya penurunan nilai rupiah, ditutupi oleh meningkatnya nilai dollar yang dipegang. Jadi, dalam perspektif ganda ini akan terlihat bahwa tanpa diversifikasi nilai rupiah yang dipegang akan berkurang nilainya bila harga dollar meningkat. Dengan diversifikasi naik turunya nilai rupiah terhadap dollar maka tidak akan mengakibatkan penurunan nilai secara keseluruhan.
  3. Perspektif majemuk. Bahwasanya instrumen investasi yang ada bukanlah hanya dollar, tetapi ada juga surat berharga, properti, logam, dan lain sebagianya yang sebaiknya dipertimbangkan untuk dimasukkan dalam portofolio. Mengabaikan satu atau beberapa instrumen investasi akan memberikan memberikan potensi kerugian yang relatif lebih tinggi. (ingat slogan telur dalam keranjang, semakin banyak di distribusi ke berbagai keranjang, secara keseluruhan risiko telur pecah akan semakin kecil).
Pertanyaan penting yang harus dijawab adalah apakah kita memang harus menempatkan dana kita di semua instrumen investasi yang ada? Berapa proporsi masing-masing instrumen terhadap nilai keseluruhan investasi? Sesuai teori dan hasil penelitian yang pernah saya lakukan, dengan menempatkan dana pada 10 hingga 15 instrumen investasi akan memberikan penurunan risiko yang sangat signifikan. Lihat ilustrasi berikut:
Photobucket

Mengenai proporsi setiap instrumen, besarannya relatif tergantung karakteristik dari instrumen investasi tersebut utamanya besar-kecilnya korelasi antara satu instrumen dan instrumen investasi lainnya.

Sabtu, 27 Juni 2009

Enggak Om. Saya Cuman Mau Ngambil Kelapanya Saja.

Kisah lucu ini merupakan kisah nyata. Nama pemerannya juga sebenarnya nyata. Maaf ya Erik, pengalamanmu aku muat disini. Mau tahu kisahnya? Silahkan disimak:

Di suatu kesempatan teman saya Erik, bercerita tentang pengalaman yang menggelikan. Kebetulan hari itu dia ingin berkunjung ke rumah temannya. Cewek. Apes, cewek yang dicarinya gak ada. Yang ada cuman bapaknya. Bapak si cewek kemudian bilang kalo si cewek gak ada, lagi keluar sebentar, dan Erik disuruh nunggu sebentar. Daripada udah kepalang tanggung lebih baik nunggu aja, batin si Erik.

Obrol punya obrol tidak lama berselang, sepiring kue kelepon disajikan tuk si Erik (kelepon: kue bulet sebesar pentol bakso, isinya gula merah, dan ditaburi parutan kelapa). Hmm lumayan nih, kata Erik dalam hati. Tapi apa daya, si Erik malu-malu. Sambil ngobrol bapak si cewek nawarin Erik untuk ngambil keleponnya. Masih malu malu juga si Erik bilang, iya om silahkan nanti aja.

Semakin lama semakin asyik ngobrolnya. Sampai kemudian keleponnya tinggal sebiji. Dimakan sama bapak si cewek semua. Sambil ngobrol bapak si cewek nawarin lagi, “Ayo ambil tuh, dimakan, sampe tinggal satu”. “Ayo Rik ambil” kata bapak si cewek itu lagi. Dengan malu-malu si Erik tetap berkata: “iya om nanti aja”. Trus tidak lama berselang Erik menjulurkan tangan mau menggapai si kelepon yang tinggal satu-satunya. Apes. Sebelum tangan si Erik sampai, tangan bapak si cewek lebih duluan nyampe di kelepon yang tinggal sebiji itu. Rupanya si bapak juga mau ngambil kelepon itu.

Keduanya kikuk. Sontak saja bapak si cewek nyuruh Erik aja yang ngambil. Erik juga gak enak hati trus dengan santainya Erik bilang:”enggak om, om aja yang ambil, saya cuman mau ngambil kelapanya aja”. Sambil menahan malu dengan wajah merah padam.

Jumat, 26 Juni 2009

Investasi Saham di Pasar Modal: Dengan Standar Nilai Emas Apakah Investasi Saham Masih Tetap Menarik, Bergengsi dan Prestisius?

Investasi di saham (baca: pasar modal) berkesan prestisius dan bergengsi. Pertanyaan yang bagus untuk diajukan adalah apakah tingkat pengembalian atas investasi saham juga seprestisius dan sebergengsi seperti kedengarannya. Coba kita uji seberapa menariknya investasi di bidang ini.

Untuk mengukur kinerja investasi di pasar modal tentunya kita harus menggunakan parameter (baca: alat ukur) yang tepat. Secara umum parameter yang digunakan mengacu pada indeks pasar. Indeks pasar di Indonesia disebut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Kita menggunakan IHSG karena IHSG menggambarkan besarnya tingkat pengembalian pasar (yaitu tingkat pengembalian rata-rata tertimbang dari seluruh saham yang ada di Bursa Efek Indonesia). Istilah gampangnya, tingkat pengembalian normal bila berinvestasi di pasar modal adalah sebesar tingkat pengembalian pasar yang diwakili IHSG.

Di dunia sebenarnya ada berbagai macam pasar modal. New York Stock Exchange atau disingkat NYSE, NIKKEI di Jepang, dan lain sebagainya. Namun setiap pasar modal memiliki memiliki cara sendiri dalam menentukan angka indeks pasar modal mereka.

Menurut situs resmi Bursa Efek Indonesia, ada beberapa macam pendekatan atau metode penghitungan yang digunakan untuk menghitung indeks, yaitu:
  1. Menghitung rata-rata (arithmetic mean) harga saham yang masuk dalam anggota indeks,
  2. Menghitung (geometric mean) dari indeks individual saham yang masuk anggota indeks,
  3. Menghitung rata-rata tertimbang nilai pasar. Umumnya semua indeks harga saham gabungan (composite) menggunakan metode rata-rata tertimbang termasuk di Bursa Efek Indonesia.
Indeks memiliki nilai dasar sebesar 100 yang merepresentasikan seluruh kapitalisasi pasar pada saat pasar modal dibuka pertama kalinya yaitu tanggal 10 Agustus 1982. Nilai dasar ini yang kemudian menjadi acuan bagaimana perkembangan kapitalisasi pasar yang ada di pasar modal. Untuk lebih jelasnya silahkan pada pendekatan atau metode perhitungan indeks di atas.

Indeks Harga Saham Gubungan (IHSG) hari ini tanggal 26 Juni 2009, sebesar 2.044. Apa maksudnya? Maksudnya selama pasar modal ini berdiri, nilai kapitalisasi pasar sudah meningkat sebanyak 20,44 kali (2.044/100) atau sebesar 2.044%. Atau secara rata-rata aritmatik, sebesar 76,05%/tahun (2.044%/26,875 tahun).

Cukup menarikkah? Untuk mengujinya silahkan lihat perbandingannya jika kita menempatkan aset dalam bentuk emas. Dengan rata-rata aritmatik, dalam kurun waktu 15 tahun, penurunan nilai rupiah atas emas sebesar 75,73% (1.136%/15 tahun). Untuk lebih detailnya silahkan lihat disini. Jadi dengan acuan emas maka keuntungan rata-rata berinvestasi di pasar modal adalah sebesar 0.32% (76,05%-75,73%) per tahun. Hemmmmm........ ternyata cuman segitu yah, tidak sebanding dengan tingkat risiko yang dipikul.

Satu hal yang harus diingat bahwa dalam berinvestasi di pasar modal, selain capital gain (baca: selisih harga beli dan jual saham), investor berkesempatan mendapatkan dividen yaitu porsi pembagian keuntungan emiten yang dikembalikan ke investor. Karena persentasenya bervariasi, dengan asumsi atau hasil penelitian yang pernah mengulas besaran persentase dividen rata-rata yang dibagikan, maka Anda tinggal menambahkannya dengan persentase keuntungan berinvestasi di pasar modal.

Masih mau berinvestasi di pasar modal? Bertahan dengan status bergengsi? Cukup sebandingkah dengan lebel prestisiusnya? It’s all up to you, semuanya kembali ke saudara masing-masing. Di lain kesempatan kita akan bahas masalah ini lebih dalam lagi. Mohon maaf bila ada khilaf dari tulisan ini. Masukan saudara-saudara akan sangat membantu menyempurnakan pemahaman kita bersama.

Kamis, 25 Juni 2009

Emas Sebagai Standar Nilai: Langkah Antisipasi Kerugian Penurunan Nilai Mata Uang

Emas sudah lama dikenal sebagai logam yang berfungsi sebagai alat tukar. Namun, kelangkaan emas membuat sebagian besar (atau seluruh) negara pengubah acuan dalam mencetak uang menjadi tanpa jaminan emas. Akibatnya sudah bisa ditebak, inflasi dan gelembung ekonomi tidak tertahankan.

Coba lihat betapa lemahnya nilai mata uang yang kita pegang terhadap nilai emas. Dalam 15 tahun terakhir, terlihat perubahan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap nilai emas (bukan harga emas yang semakin mahal, seperti yang orang biasa gambarkan) yang sangat drastis.


Bila emas dijadikan standar satuan nilai, maka untuk melihat seberapa besar merosotnya nilai rupiah dapat dihitung dengan cara berikut ini: Tahun 1994, harga emas sebesar Rp. 771.912,-/oz setelah 15 tahun menjadi Rp. 9.540.854,-/oz, jadi nilai rupiah terdepresiasi sebesar 1.136% atau sebanyak 11,36 kali ((Rp. 9.540.854,-/Rp. 771.912,-) – 1).

Bagaimana bila kita menempatkan uang di deposito dengan bunga 15%/thn (angka optimistik)? Untuk kasus seperti ini kita akan lihat bahwa nilai uang meningkat bertambah sebesar 225% (15% x 15 thn) atau sebanyak 2.25 kali.

Untuk membuktikan bahwa benar terjadi penurunan nilai mata uang terhadap emas, kita harus membandingkannya dengan menggunakan parameter yang tepat. Perhitungan yang akan kita coba lakukan disini mungkin bukan perhitungan exact yang tepat, tapi atas dasar rasionalitas dan prinsip proporsionalitas. Untuk memudahkan ilustrasi kita memerlukan katalis yang dipakai untuk mengukur kekuatan nilai mata uang rupiah. Katalis ini adalah inflasi. Kita mengasumsikan inflasi 8% per tahun (angka optimistik).

Artinya dalam 15 tahun terjadi penurunan daya beli nilai mata uang rupiah sebesar 120% (8% x 15 tahun). Gambaran sederhananya, kalau dulu kita bisa membeli beras seliter dengan harga Rp. 2.000,-setelah 15 tahun, kita harus membayar Rp. 4.400,- (Rp. 2.000 x (1 + 120%)) untuk jumlah beras yang sama.

Dengan asumsi inflasi 8% per tahun maka akan mengurangi nilai dari pendapatan yang diperoleh dari deposito menjadi 105% (225% -120%). Penurunan nilai dari yang seharusnya bila menggunakan standar emas yaitu sebesar 10,31 kali (11,36 – 1,05) atau setara dengan 1.031%.

Dari hitung-hitungan sederhana tadi sudah sangat jelas bahwa emas sangat tepat digunakan sebagai standar nilai dan juga sekaligus bertindak sebagai alat pelindung nilai dari kemerosotan nilai mata uang. Emas juga bukan merupakan instrumen investasi.

Mungkin hampir mustahil untuk bisa mengubah kondisi ini (kembali menggunakan emas sebagai standar nilai) secara menyeluruh. Tetapi bukan berarti tidak mungkin. Perubahan yang paling mungkin bisa dilakukan adalah dengan perubahan yang dimulai dari diri kita sendiri. Sulit? Awalnya mungkin sulit. Tetapi dengan komitmen kuat saya percaya kita bisa mengubah pola pandangan yang keliru ini dengan membiasakan menggunakan paradigma ini. Sebuah paradigma yang sebenarnya sudah digariskan dan ditetapkan sebelumnya oleh Allah SWT melalui Al-Qur’an dan kitab suci lainnya.

Harapannya, melalui blog ini kita bisa kembali menggunakan emas sebagai standar nilai untuk mengantisipasi kerugian akibat penurunan nilai mata uang.

Baca Iklan Jual Beli: Properti, Mobil, Motor, Komputer, Elektronik, Handphone, Jasa, dan Lain-lain.

Silahkan melihat data iklan yang masuk pada website ini.

Bagi Anda yang ingin memasang iklan jual beli, silahkan masuk di menu Pasang Iklan Barang dan Jasa.



Untuk lebih detailnya Anda bisa melihat iklan jual beli barang dan jasa pada Webpage disini.

Semoga Anda menemukan apa yang Anda cari.


Hormat kami,


Media Tata Utama

Rabu, 24 Juni 2009

Pasang Iklan Barang dan Jasa

Bagi pemasang iklan barang dan jasa silahkan isi form dibawah ini:



Semoga berhasil.



Hormat kami


Media Tata Utama

Bingung Mau Pasang Iklan Dimana? Lihat Rekomendasi Alexa Aja...!

Pengguna Internet yang semakin bertambah memiliki berbagai keuntungan. Salah satu keuntungan yang bisa diambil adalah kemudahan menyampaikan dan menerima informasi.

Dalam hal kemudahan menyampaikan informasi, banyak website penyedia layanan informasi. Pemuatan iklan menjadi primadona bagi orang yang ingin menjual barang miliknya melalui berbagai situs. Ebay biasa digunakan sebagai mediasi jual beli secara internasional. Namun untuk skala nasional, ada juga situs yang menyediakan fasilitas serupa.

Selain berbagai kekurangannya, bila diidentifikasi, keuntungan beriklan via internet antara lain:
  1. Mudah. Dengan panduan singkat, pemuatan iklan menjadi lebih mudah.
  2. Murah, bahkan ada beberapa website yang menyediakannya secara gratis. Biasanya yang dibutuhkan hanyalah mendaftarkan diri sebagai member.
  3. Cepat, hanya dalam hitungan detik, iklan sudah bisa disaksikan di seluruh penjuru dunia
  4. Pasar yang luas. Luasnya potensi pasar seluas besarnya jumlah pengguna internet.
  5. Segmentasi pasar jelas. Pencari iklan akan langsung menuju jenis produk sesuai kriteria mereka.
  6. Kemampuan kustomasi, dalam artian pengiklan dapat mengedit konten iklan. Baik dari merubah harga penawaran hingga penutupan iklan bila produk yang dijual telah laku terjual.
Keuntungan beriklan via internet terkait pasar yang luas dan segmen yang jelas tentunya harus didukung juga dengan website dengan jumlah pengunjung memadai. Popularitas website penyedia iklan, kemudian menjadi penting untuk dijadikan bahan pertimbangan.

Untuk mengukur popularitas website kita perlu melibatkan pihak ketiga. Alexa salah satunya. Dengan Alexa, kita tidak hanya bisa melihat seberapa populer peringkat suatu website, bahkan kita bisa membandingkanya dengan 4 website sejenis lainnya. Iya, terutama misalnya kita ingin membandingkan website penyedia iklan satu dan lainnya. Alexa bisa digunakan disini, terlepas dari semua polemik penting tidaknya Alexa.

Selamat mencoba, semoga berhasil.

Satu Langkah Besar dari Hidupku... Menikah... Lagi

Setelah posting sebelumnya.... dimana istri tercinta saya meninggal. Kali ini lembaran baru hidupku dibuka kembali... Menikah lagi. Iya.. 28...