Hutang Lebih Besar Dari Aset
Di negeri ini siapa yang tidak kenal dengan Abu Rizal Bakrie. Akibat krisis ekonomi tahun 1998 hutang usahanya menjadi lebih besar daripada aset yang dimilikinya. Sebelum kemudian ia masuk dalam bisnis pertambangan yang saat itu tidak banyak dilirik orang.

Lihat juga bagaimana kasus televisi swasta nasional TPI. Kisruh akibat ketidak mampuan membayar obligasi jatuh tempo membuat perusahaan ini menjadwalkan ulang kembali hutangnya hingga akhirnya terjadi restrukturisasi kepemilikan perusahaan. Walaupun sempat di klaim bangkrut, yang hingga saat ini belum ada putusan atas itu.

Dua kasus diatas hanya sekelumit kasus dari berbagai kasus serupa terkait dengan struktur modal perusahaan. Kita akan mencoba membahas mengapa ini bisa terjadi. Secara rasional pemberi hutang tentunya tidak mau menginvestasikan dananya pada instrumen yang risikonya tidak sebanding dengan tingkat pengembalian yang diharapkannya.

Terjadinya hutang lebih besar dari aset dapat dijelaskan dengan dua pendekatan yaitu risiko bisnis dan risiko sistematis. Risiko bisnis merupakan risiko yang melekat terkait karakter spesifik bisnis itu sendiri sedangkan risiko sistematis lebih pada risiko yang akan diterima oleh semua usaha secara luas. Contoh sederhanya yah kasus krisis ekonomi tadi. Hutang yang diperoleh dari pihak asing dan dalam mata uang asing saat krisis besarannya menjadi berlipat 5 hingga 8 kali lipat sedangkan nilai aset perusahaan tidak banyak berubah.

Pertanyaan yang muncul terkait kondisi hutang lebih besar dari aset adalah apakah serta merata perusahaan menjadi bangkrut. Melihat dari kasus Bakrie dan TPI diatas bisa disimpulkan bahwa perusahaan tidak serta merta bangkrut. Harus ada delik pengaduan dari pihak yang merasa dirugikan dulu baru kemudian kasusnya akan disidangkan di pengadilan perdata. Putusan sidang ini yang kemudian akhirnya menyatakan bahwa perusahaan tersebut bangkrut atau tidak.
Artikel Terkait :


Label: edit post
0 Responses

Posting Komentar

  • Komen Terkini