Test Potensi Akademik (TPA) dan Test of English As Foreign Language (TOEFL) organized by DIKTI
Pada awal tahun 2010, Dirjen Dikti menyelenggarankan test potensi akademik (TPA), dan test bahasa inggris (Toefl) bagi dosen yang berada dibawah kementerian tersebut. Saat itu, seperti biasa lembaga dimana saya bernaung mengalami kendala birokrasi seperti surat yang sangat lambat untuk didistribusikan untuk sampai ke si penerima. Benar saja, informasi itu kami terima hanya berselang dua hari sebelum kedua test tersebut dilaksanakan. Tapi, ya begitulah kondisinya.

Terus terang, saat itu tidak ada informasi detail peruntukan hasil test tersebut. Apakah akan digunakan untuk menilai kinerja pegawai atau apa, terus terang saya tidak mendapatkan informasi valid. Yang ada di benak kami, hanya membayangkan bahwa ini adalah salah satu proses evaluasi dan mengukur kemampuan dosen sebagai tenaga pendidik akan kedua indikator yang berbeda tersebut.
Selang waktu dua hari, (efektifnya sih, satu setengah hari), tidak banyak persiapan yang bisa dilakukan, belum lagi sehari sebelumnya ada mata kuliah yang harus disampaikan ke mahasiswa. Singkat kata, tidak ada persiapan.

Teng tong…., Hari test tiba. Sambil ketawa ketiwi, karena memang gak ada persiapan. Test dilakukan dalam dua sesi. Sesi pertama, sesi pagi test potensi akademik dulu. Penyelenggaranya OTTO BAPPENAS.  Sungguh test yang melelahkan, dan harus dilakukan dengan strategi. Saya nyesal karena salah strategi disini, seharusnya kalo strategi saya benar, saya pasti bisa dapet skor yang jauh lebih baik. Setelah break ishoma, siang hari dilanjutkan dengan test bahasa inggris. Parahnya sound systemnya saat listening gak jelas, yah maklum saja, karena testnya di aula yang memang tidak dipersiapkan untuk test semacam ini.

Gak ditunggu tunggu, ternyata hasilnya keluar. Selebaran hasil test disebarkan ke seluruh dosen. Sebenarnya saya tidak begitu setuju dengan dibukanya hasil seperti itu. Untuk alasan privasi. Hasilnya ya, saya dapat skor yang biasa saja. 528 untuk TPA dan 470 untuk TOEFL. Ha ha ha. Seharusnya skor TPA tersebut bisa lebih tinggi mengingat saat mendaftar di Program Magister Sains Universitas Gadjah Mada tahun 2001, saya mendapatkan skor sedikit lebih dari 550, tepatnya 554,90. Sedangkan untuk bahasa inggris, Ini pengalaman pertama saya ikut test ITP-TOEFL. Di UGM, test bahasa inggisnya hanya diselenggarakan oleh Laboratorium Bahasa UGM, jadi bisa dikategorikan TOEFL Prediction, bukan ITP-TOEFL. Selain hasil test masuk, mungkin hasil test TPA dan TOEFL ini juga yang menunjang saya untuk bisa langsung diterima sebagai mahasiswa Program Magister Sains Manajemen, Fakultas Ekonomi, Universitas Gadjah Mada tanpa melalui matrikulasi pada saat itu.

Sampai kedua skor tersebut kami terima, kami masih belum punya gambaran untuk apa skor tersebut. Kemudian, setelah berselang beberapa minggu, ada pengumuman undangan DIKTI untuk mengikuti program pelatihan bahasa inggris bagi dosen untuk studi lanjut di Luar Negeri.  Awalnya sih saya masuk cadangan untuk program tersebut, tetapi setelah beberapa minggu, bahwa saya termasuk yang diundang. Kata orang, kalo sudah rejeki gak akan kemana. Tapi ini belum akhir dari cerita. Saya akan sambung lagi cerita ini di kesempatan yang lain yaitu tentang program pelatihan bahasa inggris bagi dosen di Lingkungan Ditjen Dikti untuk Studi Lanjut di Luar Negeri.
Artikel Terkait :


0 Responses

Posting Komentar

  • Komen Terkini