Pengelolaan Koperasi: Tantangan dan Wacana Solusi
Baru baru ini saya menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) dari suatu koperasi. Ada berbagai hal yang disampaikan di pertemuan tersebut. Berbagi pendapat untuk kemajuan koperasi hingga penyampaian laporan pertanggung-jawaban pengelolaan koperasi tersebut.

Pembahasan utamanya arahnya adalah upaya memajukan koperasi dengan meningkatkan proporsi pendapatan yang bersumber dari penjualan daripada pendapatan dari bunga atas pinjaman ke anggota.

Ada beberapa outline yang menjadi saran, pertama mengenai adminstrasi dan surat menyurat, kedua, terkait strategi peningkatan pendapatan, dan yang ketiga adalah rencana program kerja dengan menjalin lebih banyak kemitraan.

Terkait adminstrasi dan surat menyurat, perlu dilakukan banyak pembenahan mengenai standar. Kegagalan dalam pengelolaan ini menyebabkan timbulnya demotivasi dari anggota dan pengurus koperasi. Tugas dan tanggung jawab pengurus dan anggota harus diungkap secara gamblang di AD/ART dan dikomunikasikan pada seluruh anggota dan pengurus. Tidak kalah pentingnya adalah kekonsistenan dalam menjalankannya.

Wacana pengelolaan secara syariah juga muncul. Tujuannya jelas adalah agar usaha mulia yang dilakukan koperasi harus juga didukung dengan tatanan yang mulia pula. Tujuan yang baik bila dijalankan dengan cara yang keliru akan memberikan dampak negatif di masa yang akan datang.

Unsur kehati-hatian tetap menjadi prioritas bagi pengelolaan koperasi. Implikasinya, selain menganut sistem antrian atas pengajuan kredit, diperlukan analisis lebih untuk mengantisipasi potensi kerugian dan ketidak-nyamanan anggota. Namun disisi lain tetap mempertimbangkan aspek humanis dan tingkat kritikal.

Program peningkatan pendapatan melalui peningkatan peran penjualan produk di kalangan anggota koperasi maupun pihak luar menjadi perhatian penting. Kendala terbesar adalah adanya aturan bersama yang menetapkan margin laba sebesar 10% dari harga pembelian. Sampai akhir pertemuan pembahasan mengenai hal ini tetap menemui jalan buntu. Alternatif solusi yang diajuakan dengan melalukan pembelian secara partai untuk mendapatkan harga diskon juga termentahkan karena skala penjualan koperasi yang relatif masih kecil. Membangun kemitraan tentunya selain komitmen perlu juga kinerja yang baik untuk menjamin pola kerjasama yang saling menguntungkan.

Menurut saya, aturan yang kaku mengenai margin laba yang sama untuk setiap produk ada baiknya dipertimbangkan kembali. Perlu dilakukan penelitian kecil tengan pengaruh harga terhadap permintaan produk yang dijual di koperasi. Bila elastisitas permintaanya tinggi maka kebijakan penetapan margin laba yang tinggi kelihatannya kurang tepat. Tekan margin laba agar harga menjadi rendah (murah) dan dengan demikian permintaan (penjualan) akan produk akan meningkat.

Ingat hitung-hitungan dagang. Prioritaskan pada perputaran tanpa mengabaikan margin laba. Itu yang penting. Margin laba 2% mungkin terlihat kecil, akan tetapi bila perputaran penjualannya tinggi maka secara kumulatif dalam satu periode akan diperoleh margin laba yang relatif tinggi. Coba bandingkan lebih baik menjual 1000x dalam satu tahun dengan margin 2% atau 50x dengan margain 10% dalam setahun (2000% vs 500%). Tetapi harus tetap diingat asumsi elastisitas harga terhadap permintaan tadi.

Peningkatan pangsa pasar juga harus diutamakan, jangan membatasi diri hanya pada anggota saja. Potensi terbesar dapat diraup dari konsumen diluar anggota. Coba hitung berapa jumlah anggota koperasi anda yang ada. Sangat terbatas. Bila hanya berorientasi anggota maka tingkat pendapatan koperasi akan terbatas juga. Coba jajaki pemasaran yang lebih luas. Tidak mustahil skala ekonomis akan dapat dicapai dengan cara ini.

Meningkatkan pola kemitraan dengan pemasuk juga penting. Baik secara kualitas maupun kuantitas. Evaluasi pemasok yang sudah ada secara berkala sambil memantau keberadaan potensi suplier alternatif sehingga produk dan harga akan selalu dapat terjaga sesuai harapan koperasi.

Saran dan inspirasi dalam tulisan ini merupakan respon dari satu kasus koperasi tetapi mungkin saja bisa diaplikasikan pada koperasi-koperasi yang lain. Itu juga sebabnya arah pembahasannya adalah usulan solusi pemacahan permasalahan koperasi tersebut, sehingga masukan positif untuk pengelolaan koperasi lebih lanjut akan sangat berarti.
Artikel Terkait :


0 Responses

Posting Komentar

  • Komen Terkini